Kompas.com - 14/12/2013, 16:07 WIB
|
EditorHilda B Alexander
TOKYO, KOMPAS.com - Selain Shanghai, Tokyo dipandang sebagai tujuan utama untuk investasi properti di seluruh kawasan Asia Pasifik tahun depan.

Hasil survei Urban Land Institute (ULI) dan PricewaterhouseCoopers (PWC) menyebutkan, ibukota Jepang ini muncul sebagai magnet investasi sejak pengenalan reformasi ekonomi yang dramatis dan bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Terpilihnya Tokyo sebagai top destination, berdasarkan pandangan dari 250 pelaku industri properti yang disurvei. Mereka terdiri atas investor, manajer keuangan, pengembang, kontraktor, perbankan, broker dan konsultan.

Tokyo memang layak menjadi pemuncak survei. Pasalnya, kota ini memperlihatkan volume transaksi yang signifikan sepanjang 2013 sebagai dampak dari keberhasilan program stimulus ekonomi. Kinerja positif 2013 diprediksi akan berlanjut pada 2014 mendatang.

Terlebih, Tokyo telah dipilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 yang dipastikan dapat meningkatkan bisnis dan investasi. Laga olimpiade ini juga bakal menstimulasi pemulihan nilai properti setelah anjlok selama 20 tahun.

Komite Olimpiade Internasional (ICO) bahkan memproyeksi pengaruh perhelatan akbar olahraga ini terhadap sektor properti akan mencapai nilai 152 miliar yen (Rp 15,4 triliun).

Untuk diketahui, terpilihnya Tokyo sebagai tuan rumah pesta olahraga sedunia ini bertepatan dengan pemulihan pasar properti, di tengah harapan bahwa kebijakan Perdana Menteri Shinzo Abe akan mengakhiri 15 tahun deflasi negara itu.

Membaiknya infrastruktur, taman, stadion, dan transportasi menyebabkan nilai properti di Tokyo dan kawasan sekitarnya akan meningkat secara dramatis. Yoji Otani, seorang analis Deutsche Securities, memperkirakan bahwa kawasan yang tadinya tak bernilai apa-apa bakal berubah menjadi emas dan memikat investor mana pun.

Mengekori Tokyo, terdapat Shanghai. Kota ini dipandang sebagai paling menarik untuk investasi. Kendati mengalami penurunan tingkat kapitalisasi dan pertumbuhan sewa stagnan, properti Shanghai tetap punya magnit kuat bagi investor internasional. Kota ini dianggap merupakan pasar dengan risiko investasi rendah.

Survei tersebut juga menempatkan Jakarta di posisi puncak dalam hal prospek pengembangan yang mewakili negara dengan pasar berkembang.

"Sementara pasar terkuat di Asia dilanda kenaikan harga yang lebih tinggi dan imbal hasil yang lebih rendah untuk produk inti, justru menyebabkan investor bereaksi menemukan cara baru, termasuk fokus pada jenis properti khusus mencari peluang di pasar negara berkembang," kata Chairman of ULI North Asia, Raymond Chow.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.