Toko Zara di Australia Dikabarkan Gulung Tikar - Kompas.com

Toko Zara di Australia Dikabarkan Gulung Tikar

Haris Prahara
Kompas.com - 15/11/2017, 06:00 WIB
Salah satu toko Zara.Mirror.co.uk Salah satu toko Zara.

KompasProperti – Awan kelabu ritel tampaknya masih enggan bergeser. Satu per satu peritel kehabisan amunisi untuk bertahan di tengah badai sektor tersebut.

Kali ini, kabar terbaru datang dari negeri kanguru, Australia. Peritel pakaian ternama Zara dikabarkan segera menutup tokonya di pusat perbelanjaan Robina Town Centre, Gold Coast.

Sebagaimana diwartakan Sydney Morning Herald, Selasa (14/11/2017), penutupan cabang di Gold Coast itu merupakan akibat dari tak stabilnya industri ritel di Australia.

Baca juga: Setelah Singapura, Giliran Ritel Australia Terguncang

Tren penurunan penjualan ritel kian terasa sejak pertengahan 2017. Data dari Badan Pusat Statistik Australia (ABS) menunjukkan, penjualan ritel turun sebesar 0,6 persen pada Agustus, mengacaukan ekspektasi kenaikan 0,3 persen. Pada Juli lalu, hal serupa juga terjadi dengan penurunan sebanyak 0,2 persen.

Jika dianalisis, penurunan 0,8 persen pada Juli dan Agustus itu merupakan penurunan back-to-back terbesar sejak Oktober 2010.

Ilustrasi ritelSmileus Ilustrasi ritel
Rencana penutupan gerai Zara itu memperpanjang daftar peritel yang gulung tikar di negara federal itu. Awal tahun ini, peritel Forever 21 menutup tokonya di Sydney's Pitt Street Mall, Macquarie Centre, dan Brisbane.

Beberapa peritel pakaian lainnya juga menahan rencana pembukaan gerai baru untuk memastikan tidak terjadi kanibalisme atas omzet penjualan toko yang telah ada.

Kabar gulung tikarnya toko Zara di Australia itu juga memancing kenangan atas kejayaan masa lalu.

Ketika toko pertama Zara buka di Pitt Street Mall di Sydney pada 2011, staf keamanan tambahan sampai perlu dikerahkan untuk mengendalikan antrean pengunjung. Tahun lalu, Zara juga masih membuka gerai baru di Pacific Fair, Gold. 

Ilustrasi ritelkurmyshov Ilustrasi ritel
Zara termasuk merek internasional ternama yang tiba di Australia dengan peluncuran toko yang cukup banyak, pernah mencapai 15 cabang. Namun, kondisi saat ini telah jauh berubah, pesona ritel mulai temaram. Demam belanja tak lagi menjadi hal lazim di Australia.

Baca juga: Ritel Australia Anjlok, Ini Penjelasan PM Turnbull

Menanggapi detail penutupan cabang Zara di Gold Coast tersebut, juru bicara Zara menolak berkomentar lebih lanjut.

Adapun pengelola mal Robina Town Centre, QIC, masih malu-malu dalam membocorkan rencana penutupan Zara. Pihak QIC memilih berkomentar secara diplomatis dengan mengatakan bahwa pusat perbelanjaan mereka “terus-menerus dikembangkan menjadi lebih baik”.

Manajer Umum Robina Town Centre Anita Brown mengatakan, kurang tepat bagi pihaknya untuk mengomentari operasional mitra ritelnya.

Ilustrasi ritelRidofranz Ilustrasi ritel
"Selama 20 tahun terakhir, kami telah berulang kali mengembangkan penawaran kami, melalui pendekatan reinvestasi yang signifikan dan berkelanjutan, serta memberikan transformasi yang terus memenuhi kebutuhan masyarakat," papar Brown.

"Contoh tindakan teranyar dari komitmen tersebut adalah meluncurkan The Kitchens dan juga pengembangan Central Mall yang saat ini sedang berlangsung,” imbuh dia.

Masih prospektif

Menurut laporan penelitian dan analisis terbaru Colliers International, sektor ritel Australia memang tengah menghadapi tantangan. Meski demikian, ritel masih memiliki permintaan yang tinggi dengan tingkat okupansi yang baik pula.

Direktur Nasional Bidang Ritel Colliers International Michael Bate memastikan, permintaan untuk ruang ritel di Australia tetap stabil, khususnya di daerah padat penduduk.

"Integrasi pusat-pusat perbelanjaan dengan kondisi sosial masyarakat membuat ritel tetap diminati investor atau peritel,” cetusnya.

Direktur Bidang Penyewaan Colliers International George Wragge menambahkan, hadirnya peritel daring Amazon menjadi tantangan tersendiri bagi peritel konvensional Australia.

Ilustrasi ritelWilliam_Potter Ilustrasi ritel
Peritel konvensional dituntut untuk meningkatkan nilai mereka di mata konsumen serta mulai mengadopsi teknologi penjualan daring.

"Pengumpulan data tren belanja konsumen dan pemahaman terkait bagaimana menafsirkan data tersebut akan sangat penting untuk meningkatkan pengalaman masyarakat di gerai peritel konvensional,” pungkas Wragge.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisHaris Prahara
EditorHilda B Alexander
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM