Basuki Ajak Ahli Hidraulik Bangun Food Estate di Kalimantan Tengah

Kompas.com - 14/12/2020, 11:11 WIB
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono beserta jajaran lokasi pengembangan lumbung pangan baru di luar Pulau Jawa atau food estate di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan menaiki motor. Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR.Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono beserta jajaran lokasi pengembangan lumbung pangan baru di luar Pulau Jawa atau food estate di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan menaiki motor.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengajak keterlibatan para ahli khususnya yang tergabung di Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI) untuk membangun water management dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi dalam pengembangan food estate di Kalimantan Tengah.

"Di sana jenisnya rawa lebak dan rawa pasang surut, sekarang baru mulai irigasi sekitar 2.000 hektar, kemudian pengelolaan tanahnya dan water management-nya," kata Basuki dalam siaran pers yang dikutip Kompas.com, Senin (14/12/2020).

Basuki menjelaskan, kunci dari program pengembangan food estate adalah penyediaan air untuk irigasi areal sawah, terutama pada lahan potensial seluas 165.000 hektar yang merupakan kawasan aluvial, bukan gambut, pada lahan Eks-Pengembangan Lahan Gambut (PLG).

Baca juga: Walhi Soroti 6 Masalah Permen Food Estate di Kawasan Hutan

Pemanfaatan teknologi informatika dibutuhkan agar pengembangan sistem pertanian food estate lebih modern (modern agriculture system) sehingga dapat dimanfaatkan tidak hanya saat produksi tetapi juga pasca produksi.

"Paling penting adalah water management. Semua inovasi harus kita manfaatkan agar lebih berkembang," cetus Basuki.

Penerapan teknologi digital untuk pengelolaan SDA agar lebih terpadu atau Integrated Water Resources Management (IWRM) melalui penggunan Smart Water Management (SWM) atau manajemen air yang cerdas.

Penggunaan SWM dapat memanfaatkan teknologi antara lain smart sensor, real time monitoring, cloud services, hingga decision support system secara nirkabel yang digunakan dalam pengelolaan aliran air yang lebih baik mulai dari hulu hingga ke hilir.

"Ke depan kita akan lakukan secara otomatisasi di pintu-pintu airnya, sehingga dapat memanfaatkan keahlian IT di area rawa lebak, karena tidak mungkin 160 hektar dilakukan secara manual," imbuh Basuki.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X