Persiapan New Normal, Kapasitas Halte dan Stasiun Perlu Diperhatikan

Kompas.com - 31/05/2020, 19:32 WIB
bPersonel TNI saat berjaga di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (27/5/2020). Presiden Joko Widodo menginstruksikan Panglima TNI untuk mengerahkan personelnya dalam menertibkan masyarakat selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGbPersonel TNI saat berjaga di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat, Rabu (27/5/2020). Presiden Joko Widodo menginstruksikan Panglima TNI untuk mengerahkan personelnya dalam menertibkan masyarakat selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Msyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, untuk memulai kebiasaan baru atau new normal, pemerintah tidak hanya perlu mengatur penambahan sarana, namun penambahan kapasitas prasarana pendukung juga harus diperhatikan.

Beberapa prasarana umum yang dimaksud adalah halte, stasiun, tempat beribadah, dan penerapan petugas protokol kesehatan di setiap tempat pemberhentian transportasi umum.

Tak hanya itu, penerapan jaga jarak untuk para penumpang yang tengah menunggu transportasi baik kereta atau bus juga perlu diatur.

Baca juga: Pengaturan Transportasi Umum Saat New Normal

"Dengan kondisi kapasitas stasiun dan halte seperti sekarang, perlu dipikirkan penambahan ruang tunggu sementara di stasiun kereta dan ruang halte bus tersebut," ujar Djoko dalam siaran resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (31/5/2020).

Di setiap stasiun, pengelola perlu melengkapi thermal camera untuk sensor suhu tubuh.

Sensor disediakan di pintu masuk bus sehingga ketika penumpang memasuki bus, dapat terdeteksi suhu tubuh dari wajahnya.

Demikan pula ruang untuk beribadah (mushola) dan peralatannya yang menurut Djoko  juga perlu diperhatikan.

"Seyogyanya, peralatan sholat harus dibawa masing-masing orang. Pihak pengelola tidak perlu menyediakan peralatan sholat dan meniadakan karpet penutup lantai," lanjutnya.

Pengelola juga dapat menambahkan aturan, seperti penerapan batas usia rentan terhadap penyakit menular dan pengguna transportasi umum serta penggunaan jenis pakaian.

Tak hanya itu, selama berada di kereta atau bus para penumpang perlu dilarang untuk menggunakan telpon genggam atau berbicara agar menjaga penyebaran droplet.

Baca juga: Transportasi Higienis, Kebutuhan Penting Saat New Normal

"Mengatur aktivitas manusia Indonesia untuk memahami atau taat aturan bertransportasi sebelum dan pada masa pandemi Covid-19 menuju normal baru tidaklah mudah. Apalagi di tengah banyak kepentingan dan eranya media sosial," ucap Djoko.

Namun di sisi lain, hal ini merupakan peluang bagi pemerintah untuk menata sungguh-sungguh layanan transportasi umum higienis.

Menurutnya, penyelenggaraan sistem transportasi higienis menjadi keharusan guna mengikuti arah perkembangan kenormalan baru.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X