Kementerian PUPR Terapkan Teknologi ABSAH Melalui Padat Karya Tunai

Kompas.com - 21/04/2020, 08:04 WIB
Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH). Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPRAkuifer Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menerapkan teknologi Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH) untuk menampung air hujan sebagai sumber air baku masyarakat.

Tahun 2020 ini, pembangunan teknologi ABSAH disalurkan melalui Program Padat Karya Tunai (PKT).

Program tersebut merupakan bagian dari mitigasi dampak pandemi Covid-19 terhadap masyarakat yang bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran dan mempertahankan daya beli.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, program infrastruktur PKT sangat penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Setiap tahapan pelaksanaan PKT dilakukan sesuai dengan Protokol COVID-19, misalnya menjaga jarak fisik, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan,” kata Basuki dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (20/4/2020).

Pembangunan teknologi ABSAH tahun 2020 ini tersebar di 94 lokasi dengan alokasi anggaran yang dikeluarkan oleh Kementerian PUPR sebesar Rp 38 miliar.

Masa pelaksanaan pembuatan ABSAH dilakukan selama 60 hari dengan mempekerjakan 10 tenaga kerja di masing-masing lokasi pembuatan ABSAH. Sehingga, pragram tersebut berkontribusi menyerap tenaga kerja sebanyak 940 orang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Teknologi ABSAH ini merupakan infrastruktur penyediaan air baku mandiri dengan prinsip kerja menampung air hujan dalam tampungan disaring dengan media akuifer buatan yang terdiri dari kerikil, pasir, bata merah, batu gamping, ijuk, serta arang.

Penerapan teknologi ABSAH sendiri sudah telah diterapkan oleh Kementerian PUPR di daerah kering, kawasan sulit air karena faktor geologi dan iklim, pulau-pulau kecil di Indonesia, dan daerah berair asin, seperti Pulau Miangas, Pulau Hiri, Pulau Pasi, dan Pulau Lombok.

Kementerian PUPR pun sebelumnya telah mengembangkan Teknologi ABSAH Modular sehingga volume dan tampungan air dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan dan dapat dipindahkan sesuai dengan lokasi yang dibutuhkan.

Teknologi ini pun telah melewati proses uji laboratorium dan verifikasi lapangan.

Baca juga: Tungku Sanira, Teknologi Sampah Nir-racun

ABSAH Modular sendiri merupakan bangunan konservasi yang dapat menirukan aliran air yang terjadi di alam seperti sungai, mata air, air tanah.

Kemudian, diproses melalui ilmu fisika, biologi, dan hidrologi yang mana atap bangunan merupakan daerah aliran tangkapan hujan.

Teknologi ABSAH Modular tersebut telah dibangun di berbagai daerah, misalnya Kabupaten Serang, Banten dan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Penerapan teknologi ini juga sangat membantu penyediaan air bersih dan air minum masyarakat dari air hujan yang memenuhi baku mutu untuk melayani standar kebutuhan air baku di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Sehingga, masyarakat yang tinggal di daerah kering atau susah air akan dibantu secara sosial maupun ekonomi karena tidak harus membeli air.

Kemudian, dukungan inovasi dan teknologi diperlukan dalam pembangunan infrastruktur menjadi lebih baik, cepat, dan murah.

Pemanfaatan teknologi yang tepat guna, efektif, dan ramah lingkungan juga didorong untuk menciptakan nilai tambah dan pembangunan berkelanjutan sehingga manfaat infrastruktur dapat dirasakan untuk generasi mendatang.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X