Obituari Ahmad Djuhara, dan Rumah Baja yang Abadi

Kompas.com - 27/03/2020, 17:26 WIB
Ketua Umum IAI Ahmad Djuhara IstimewaKetua Umum IAI Ahmad Djuhara

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Ahmad Djuhara meninggal dunia, dalam usia 53 tahun.

Mantan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf memastikan hal tersebut dalam unggahan instagram pribadinya yang terverifikasi @triawanmunaf pada Jumat (27/3/2020).

Triawan menulis kabar duka tersebut disertai dengan unggahan foto mereka berdua:

Selamat jalan, Kang Dju...???? Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun

Telah berpulang ke Rahmatullah, rekan sejawat kita Ahmad Djuhara, IAI, Ketua Umum IAI 2018-2021.

Semoga Allah mengampuni semua dosa dan kesalahannya, melapangkan kuburnya. Insya Allah Husnul Khatimah... Tapi, kami kehilanganmu, Kang.????

Pria kelahiran 22 November 1966 ini merupakan memimpin organisasi profesi tersebut untuk periode 2018-2021.

Baca juga: Rencana Ahmad Djuhara Membawa IAI 3 Tahun ke Depan

Ahmad Djuharadok. IAI Ahmad Djuhara
Sebelum menduduki posisi sebagai Ketua IAI tingkat pusat, Djuhara pernah memegang jabatan di IAI Jakarta sebagai Ketua Badan Sistem Informasi Arsitektur (2000-2002).

Kemudian sebagai Ketua Badan Keprofesian (2003-2006), Ketua Pokja Tatanan Kerja Arsitek di Pemprov DKI (2005), dan Ketua IAI Jakarta (2006-2009).

Dilansir dari laman iDea, Djuhara juga aktif dalam Forum Arsitek Muda Indonesia (AMI) sejak tahun 1992.

Djuhara pun terlibat dalam modern Asian Architecture Network (MAAN) dan diangkat menjadi Wakil Koordinator MAAN Indonesia pada tahun 2005.

Sebagai arsitek, ia pernah bekerja di Pacific Adhika Internusa (PAI) pada tahun 1992 sampai 1998.

Setelah itu, dia mendirikan perusahaan konsultan arsitektur Djuhara + Djuhara bersama dengan istri, yaitu arsitek Wendy Djuhara pada tahun 2001.

Penghargaan

Selama berkarir di dunia arsitektur, Djuhara meraih sejumlah penghargaan antara lain IAI Award – Citation Award (2002), Penghargaan III - Maket Terbaik dari International Architecture Biennale Rotterdam 2005 untuk Maket Batavia 1681 (2005), dan Penghargaan Utama IAI Award 2008 untuk Rumah Baja Wisnu.

Karya rumah baja ini mengantarkan Djuhara ke jenjang popularitas dan disegani di kalangan arsitek lainnya. 

Hingga kini, rumah baja tersebut masih berdiri dan kerap dijadikan kajian studi mahasiswa arsitektur dan arsitek pemula.

Dia juga pernah diminta untuk menjadi technical reviewer untuk sejumlah ajang penghargaan seperti PAM Awards 2011 Overseas - House at Kebayoran Baru dan Overseas - House at Pondok Indah.

Kemudian, Aga Khan Award for Architeture Cycle 2013 Museum of Handcraft Paper di Yunnan, China, serta Aga Khan Award for Architeture Cycle 2016 Hutong Children’s Library and Art Centre di Beijing, China.

Djuhara dikenal aktif mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa pameran yang pernah ia ikuti adalah Pameran Karya Arsitek Muda Indonesia di Staad Huis, Den Haag, Belanda, d'Form, desain produk Indonesia (2005.

Lalu Servants Right to Space pada International Architecture Biennale Rotterdam (2005), dan Indonesia Architects Week di Tokyo, Jepang (2011).



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X