Kompas.com - 12/03/2020, 14:00 WIB
Ilustrasi perkantoran. interiordesign.netIlustrasi perkantoran.

KOMPAS.com - Selama tiga bulan terakhir, virus Corona yang berasal dari Wuhan, China, telah  menyebar ke lebih dari 100 negara di dunia serta merenggut nyawa lebih dari 3.800 jiwa.

Hal tersebut berdampak sangat besar. Karena, dapat menjerumuskan banyak industri global pada fase kelumpuhan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mulai dari pembatalan penerbangan dan karantina massal hingga terjadi gangguan pada rantai pasokan dan pasar keuangan.

Mengesampingkan implikasi kesehatan yang serius dari wabah ini, epidemi virus Corona juga membuat sejumlah perusahaan secara massal menutup kantornya.

Bukan tanpa sebab, hal tersebut dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus Corona yang mungkin saja menular dari karyawan satu ke karyawan lain. Untuk menghindari hal tersebut, para karyawan diperbolehkan bekerja dari rumah.

Lantas, apakah dengan ditutupnya perkantoran secara massal akibat virus Corona ini membuat pasar perkantoran jatuh?

Melansir Arch Daily, virus Corona tidak secara langsung menghancurkan konsep bekerja di gedung perkantoran.

Baca juga: UPDATE: 10 Orang Tewas di Hotel Karantina Corona China

Namun, virus tersebut memang telah memberi kesempatan para karyawan untuk bekerja dari rumah sampai keadaan kembali normal.

Bahkan, sejak awal Februari, jutaan karyawan di China telah bekerja dari rumah. Sementara itu, beberapa perusahaan besar di dunia juga telah melakukan hal yang sama.

Sebut saja, Amazon, Facebook, Google, dan Microsoft yang memberi kesempatan kepada para karyawannya untuk bekerja dari rumah mulai awal Maret.

Virus Covid-19 tersebut mungkin telah menyebabkan peningkatan besar-besaran karyawan yang bekerja dari rumah.

Misalnya, di Amerika Serikat telah meningkat sebanyak 173 persen dibanding tahun 2005.

Dibanding tahun 2017, para karyawan di Uni Eropa yang bekerja dari rumah mengalami peningkatan sebanyak 5 persen.

Sebut saja, Belanda dengan kenaikan sebesar 13 persen, Luksemburg 12 pesen, serta Finlandia sebanyak 12,3 persen.

Minat bekerja dari rumah bukanlah akhir dari segalanya. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan karyawan dengan talenta yang mumpuni.

Bahkan, sebuah studi di Universitas Stanford, California menguji 250 orang karyawan di Amerika Serikat pada tahun 2017 lalu.

Hasilnya, bekerja dari rumah meningkatkan produktivitas karyawan sebesar 13,5 persen. Karena bekerja dari rumah memungkinkan karyawan tak mudah mengalami sakit serta dapat meningkatkan kualitas kerja.

Dari perspektif karyawan, keuntungannya sangat jelas. Karena, lebih sedikit waktu dan uang perjalanan, keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi yang lebih baik, serta suasana yang tenang dan produktif.

Sementara itu, menurut Global Workplace Analytics mencatat bahwa 80 hingga 90 persen tenaga kerja di Amerika Serikat mengatakan mereka ingin bekerja dari rumah, setidaknya untuk paruh waktu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.