Sedangkan menurut Harian Kompas, 26 Januari 1992, lembaga khusus yang mengurusi arsip negara didirikan oleh pejabat arsiparis pertama di Hindia Belanda, Mr J.A. Van der Chijs.
Arsitektur gedung ini dipengaruhi oleh gaya Perancis.
Harian Kompas, 2 Oktober 1993 menuliskan, pengaruh ini datang saat Belanda berada di bawah kendali Perancis.
Bangunan yang dikelilingi benteng dan terpola oleh kanal-kanal, serta istana gaya Eropa. Ciri khas ini merupakan tata kota yang lazim digunakan pada masa itu.
Pengaruh itu juga memengaruhi corak Gedung Arsip Nasional. Salah satunya adalah adanya kolam kecil yang pembuatannya disinyalir mengikuti model kolam di Istana Versailles, Perancis.
Selain itu, bangunan juga memiliki ciri unik yakni ukiran-ukiran gaya Barok dengan beragam corak.
Setiap ukiran bahkan memiliki cerita dan makna berbeda.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.