Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bernardus Djonoputro
Ketua Majelis Kode Etik, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)

Bernardus adalah praktisi pembiayaan infrastruktur dan perencanaan kota. Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah, dan saat ini menjabat Advisor Senior disalah satu firma konsultan terbesar di dunia. Juga duduk sebagai anggota Advisory Board di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung ( SAPPK ITB).

Selain itu juga aktif sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salzburg Austria. Bernardus adalah Penasehat Bidang Perdagangan di Kedubes New Zealand Trade & Enterprise.

Sebelum Ibu Kota Direlokasi, Belajarlah dari London

Kompas.com, 12 Juni 2019, 12:19 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Bidang engineering dan desain serta panataan ruang ditantang untuk memaknai dan mengaplikasi nilai-nilai lingkungan untuk meningkatkan wellbeing dan livability. Rangkaian perubahan gaya hidup dalam taman nasional tentu akan mengubah vibrancy kota.

London National Park City dikembangkan di atas pilar kegiatan akar rumput dan aktivisme. Yang hebat adalah betapa masyarakat modern saat ini sudah menjadi agen perubah yang sangat penting.

Kegiatan kampanyenya pun dilakukan dalam rentang 5 tahun terakhir, mulai dari penyusunan London Greenfround Map, yang memperlihatkan cakupan ruang hijau yang sangat ekspansif di berbagai format seperti taman bermain, sempadan sungai, urban farming dan lain sebagainya.

Saat ini para pegiat sudah mampu menghitung di areal 1.500 kilometer persegi metro London sebagai salah satu habitat penting, ditinggali oleh 8 juta manusia, 1.500 spesies bunga, lebih dari 300 spesies burung, dengan 300-an bahasa di masyarakat, 170 museum, dan 4 situs sejarah UNESCO.

Pemerintah kota mulai melakukan program penyertaan masyarakat, dengan menyiapkan dana hibah untuk penanaman oleh masyarakat mulai 5.000 sampai 50.000 pound.

Juga diadakan berbagai acara seperti lomba fotografi berkala dan kampanye “hari kerja di taman”. Walikota Sadiq Khan pun berkomitmen untuk menjadikan separuh London hijau dan tutupan canopy 10 persen pada tahun 2050.

Saya pun kemudian mencoba pikiran tersebut dalam sketsa gagasan pemindahan ibu kota ke Kalimantan. Saya menganalisis cepat bagaimana menempatkan 1,5 juta penduduk. Berapa lama? Berapa sulit? Bagaiaman tahapannya?

Apa rasio hijaunya? Bisakah ibu kota sebagai taman nasional?

Bukankah Kalimatan sebagai salah satu dari empat pulau terbesar di dunia merupakan frontier dari keragaman hayati dengan begitu banyak spesies asli flora, fauna dan manusia?

Bisa jadi kita akan melihat sebuah fenomena pembaruan dari gerakan Garden City-nya Ebenzer Howard, yang pada tahun 1898 memulai perancangan green belt mengelilingi pusat kota., sehingga membentuk komunitas mandiri dengan kegiatan baik pertanian, industri maupun permukiman.

Kota yang semakin padat dan kumuh menjadi permasalahan masa itu, melalui gerakan Garden City dihubungkan dengan pedesaan sekitarnya, sehingga kaum pekerja mempunyai pilihan lain.

Namun tahun 1930-an Le Corbuzier melalui Piagam Athena bersama rekan-rekannya melalui Congrès International d'Architecture Moderne(CIAM) mempromosikan desain kota yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan padat dan menjadi functional city.

Jadilah banyak kota seperti sekarang, penuh dengan hutan beton yang kompetitif dalam menggunakan ruang.

Belajar dari London, dan memasuki era merencana kota baru di Indonesia adalah tantangan, untuk "reimagining how city need to be planned".

Mengalun harapan, keriangan dan optimisme Worsworth’s pada puisinya yang terkenal “Daffodils”:

I wandered lonely as a cloud,
That floats on high o’er vales and hills
When all at once I saw a crowd,
A host, of golden daffodils;
Beside the lake, beneath the trees,
Fluttering and dancing in the breeze.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau