Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Orang Indonesia Beli Properti di Singapura

Kompas.com, 26 Maret 2019, 23:01 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Pertama, kata Dora, tidak dikenakan pajak penjualan atau PPN, pajak penjualan barang mewah (PPNBM), dan estate duty.

"Kedua, tidak ada batasan pembelian asing. Mereka bebas membeli berapa pun jumlah unit yang diinginkan, selama punya uang," seloroh Dora.

Baca juga: Indonesia, Pasar Penting Bagi Pariwisata Singapura

Ketiga, nilai mata uang dollar Singapura relatif stabil. Keempat, produk properti yang dijual merupakan area penggunaan dalam hitungan bersih alias sale of usable nett floor area.

Kelima, Singapura menawarkan pertumbuhan nilai sewa rata-rata 3 persen, dengan pasar penjualan yang kembali aktif setelah sempat menurun pada dua tahun lalu.

Faktor berikutnya adalah regulasi dan peraturan yang melindungi pemilik properti demikian terang dan jelas.

"Tidak ada wilayah abu-abu. Semua pasti," tekan Dora.

Faktor ketujuh adalah skema pembayaran progresif. Di Singapura, pembeli hanya diharuskan membayar cicilan jika progres pembangunan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

"Misalnya, untuk cicilan pertama, pembeli membayar 15 persen, kemudian lima persen, dan selanjutnya sesuai dengan perkembangan pembangunan," tambah Dora.

Skema pembayaran ini melindungi konsumen, dan sekaligus menghindarkan pembeli dari praktik curang pengembang.

Baca juga: 10 Raja Properti Kaya Dunia Bermukim di Singapura

Uang pembeli disimpan dalam escrow account perbankan yang akan dikeluarkan bila progres pembangunan fisik properti sesuai dalam klausul perjanjian jual beli. 

Terakhir adalah rencana pembangunan Singapura di sektor infrastruktur yang diyakini akan menambah nilai properti.

Menurut Cheng, pertumbuhan properti Singapura akan berada pada level rata-rata 10 persen seiring dengan pembangunan infrastruktur.

Perkantoran di Singapura.Hilda B Alexander/Kompas.com Perkantoran di Singapura.
"Tahun ini akan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Cheng.

Berdasarkan statistik yang diperoleh dari URA Realis, pasar properti Singapura memang memperlihatkan penurunan pada 2017.

Tahun itu, hanya ada sekitar 1.600 transaksi yang dilakukan oleh pembeli asing. Jumlah ini jauh lebih rendah dari jumlah rata-rata 3.600 transaksi per tahun saat properti tengah booming pada medio 2010-2013.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau