Pemanfaatan Aspal Plastik, 1 Kilometer Jalan Butuh 3 Ton Sampah Kresek

Kompas.com - 15/02/2019, 19:08 WIB
Penerapan aspal yang dicampur plastik di Jalan Dakota, Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (24/10/2017). Arimbi RamadhianiPenerapan aspal yang dicampur plastik di Jalan Dakota, Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (24/10/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia menjadi negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia. Untuk memperbaiki predikat tersebut, daur ulang sampah plastik menjadi hal mutlak yang harus dilakukan.

Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Menurut sumber yang sama, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Kepala Balai Litbang Perkerasan Jalan Balitbang Kementerian PUPR Johannes Ronny menuturkan, sampah plastik yang telah didaur ulang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas aspal.

Baca juga: Penerapan Aspal Plastik Skala Proyek Tunggu Aturan

Persoalannya, tidak semua sampah dapat digunakan sebagai material penguat aspal.

"Yang kami fokuskan di sini adalah plastik jenis LDPE dalam hal ini kantong plastik kresek yang biasa digunakan untuk belanja, itu belum bisa di-recycle," kata Ronny dalam penjelasannya di Kementerian PUPR, Jumat (15/2/2019).

Selama ini, upaya daur ulang sampah plastik sebenarnya sudah banyak dilakukan. Hanya, untuk sampah kresek tak banyak yang melakukannya karena kualitasnya rendah, sehingga kurang memiliki nilai ekonomi.

Pada akhirnya, tidak banyak pula pengepul yang mengumpulkan sampah kresek tersebut. Hal itulah yang kemudian menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam membuat aspal plastik.

"Jadi belum ada yang menggerakkan. Kalau dibandingkan dengan aspal karet, (Ditjen) Bina Marga rencananya mau menerapkan sampai 93 kilometer. Kalau aspal plastik mereka baru berani 22 kilometer (tahun ini)," ucap Ronny.

Sebagai informasi, untuk mengaspal satu kilometer jalan yang terdiri atas dua lajur selebar tujuh meter dengan ketebalan 4 sentimeter, paling tidak dibutuhkan plastik kresek sekitar 2,5 hingga 3 ton.

Sampah tersebut kemudian dikeringkan dan dicacah sebelum dicampurkan ke dalam agregat aspal dengan metode dipanaskan dalam suhu tertentu.

Menurut Ronny, kualitas aspal yang telah dicampur dengan plastik lebih kuat 40 persen dibandingkan dengan aspal tanpa campuran.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X