Tarif LRT Jabodebek Rp 12.000 Sekali Perjalanan

Kompas.com - 15/02/2019, 14:52 WIB
Suasana pembangunan proyek transportasi masal Light Rail Transit (LRT) di sepanjang Tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, Minggu (23/7/2017). Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Budhi Harto mengungkapkan, nilai pembangunan prasarana LRT Jabodebek di kontrak awal sebesar Rp23,39 triliun sudah termasuk PPN 10 persen. Namun, setelah dihitung lagi, ongkos konstruksi LRT dapat ditekan lebih murah menjadi Rp 19,7 triliun dan belum termasuk PPN 10 persen dan sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/foc/17. ANTARA FOTO/Yulius Satria WijayaSuasana pembangunan proyek transportasi masal Light Rail Transit (LRT) di sepanjang Tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, Minggu (23/7/2017). Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Budhi Harto mengungkapkan, nilai pembangunan prasarana LRT Jabodebek di kontrak awal sebesar Rp23,39 triliun sudah termasuk PPN 10 persen. Namun, setelah dihitung lagi, ongkos konstruksi LRT dapat ditekan lebih murah menjadi Rp 19,7 triliun dan belum termasuk PPN 10 persen dan sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/foc/17.

JAKARTA, KOMPAS.com - Light Rail Transit (LRT) Jabodebek yang digarap PT Adhi Karya (Persero) Tbk akan bertarif Rp 12.000 pada saat beroperasi mendatang. Tarif tersebut berlaku untuk satu kali perjalanan.

Menurut Kepala Divisi LRT Jabodebek PT KAI (Persero) John Roberto, tarif yang telah ditentukan tersebut berdasarkan kemampuan masyarakat untuk membayar.

"Jadi, kalau dari hitung-hitungan kami, tarif keekonomian itu kan Rp 30.000. Tapi, willingness to pay (kemampuan membayar) masyarakat itu Rp 12.000," kata John dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Baca juga: Terganjal Lahan, Progres LRT Jabodebek Baru 58,3 Persen

Pengambilan keputusan terkait tarif ini, sebut John, sudah dilakukan sejak lama. Kendati demikian, bila memang dirasakan masih terlalu mahal dan berharap ada perubahan, keputusan itu sepenuhnya ada di tangan pemerintah.

"Perubahan tarif kami tunggu pemerintah. Subsidi Rp 18.000 dari pemerintah pusat seperti biasa KCI tuh, maka tadi disebutkan sama DKI juga, tapi sejauh ini belum," ungkap John.

Ia menambahkan, perserian masih menjajaki kerja sama dengan pengelola Commuter Line dan PT MRT Jakarta untuk mengintegrasikan tarif saat moda transportasi ini beroperasi.

"Integrasi tiketnya, KRL dengan LRT sangat bisa karena kita sudah bicarakan dengan KCI. Itu pasti harus kita lakukan. MRT bisa kita bicara dan memungkinkan," ucap John.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X