Bisnis Eka Tjipta Widjaja Moncer Saat Orde Baru (IV)

Kompas.com - 27/01/2019, 21:55 WIB
Aktivitas perdagangan di Mal dan ITC Mangga Dua terpantau normal pasa Senin (14/5/2018) pagi.KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D Aktivitas perdagangan di Mal dan ITC Mangga Dua terpantau normal pasa Senin (14/5/2018) pagi.

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam sebuah wawancara khusus dengan harian Kompas  pada 1995 seperti dilansir Kompas.id, pendiri Sinarmas Group, Eka Tjipta Widjaja, mengaku, bisnisnya benar-benar moncer saat Orde Baru.

Bahkan, ia menyebut masa itu sebagai "pemberi kesejukan usaha". Namun, sebelum mencapainya, Eka harus jatuh bangun menjalankan berbagai macam bisnis yang ditekuninya.

Setelah tamat sekolah dasar, Eka mulai menjajakan biskuit dan kembang gula berkeliling kota Makassar.

Dalam dua bulan, ia mampu memperoleh laba Rp 20, jumlah yang cukup besar kala itu. Sebab pada saat yang sama, harga beras masih 3-4 sen per kilogram.

Namun, bisnisnya hancur ketika Jepang menyerbu Indonesia dan masuk ke Makassar. Namun, Eka tak tinggal diam.

Baca juga: Gurita Bisnis Sang Taipan Eka Tjipta Widjaja (I)

Eka beralih berbisnis terigu, semen, gula, dan barang kebutuhan lainnya yang diperoleh setelah tentara Jepang takluk.

Barang-barang tersebut sebelumnya dibuang mereka yang tengah menawan tentara Belanda di wilayah Paotere, sebuah wilayah di pinggir Makassar.

Dalam kondisi perang, barang-barang kebutuhan seperti itu adalah persediaan yang langka. Tak heran jika ia berhasil mendulang keuntungan besar.

Terigu, misalnya, yang semula hanya Rp 50 per karung, ia jual Rp 60 dan akhirnya Rp 150. Untuk semen, ia jual Rp 20 per karung kemudian Rp 40.

Saat itu, ada seorang kontraktor yang hendak membeli semen miliknya untuk membuat kuburan orang kaya. Namun bukannya menjualnya, Eka justru beralih profesi sebagai kontraktor pembuat kuburan.

Baca juga: Eka Tjipta Widjaja, Tamatan SD yang Jadi Taipan Properti (II)

Ia bayar tukang Rp 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp 3.500 per kuburan dan yang terakhir membayar Rp 6.000.

Eka TjiptaLukas Ferdinand/KONTAN Eka Tjipta
Setelah semen dan beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor.

Lini bisnis berikutnya yang diincar adalah kopra. Tak hanya berdagang, Eka bahkan rela berlayar ke sejumlah daerah untuk mendatangi sentra-sentra kopra agar mendapatkan barang yang lebih murah.

Ia pun nyaris mendulang untung besar. Pasalnya, Jepang mengeluarkan aturan jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang dibeli seharga Rp 1,80 per kaleng. Padahal, harga di pasaran Rp 6 per kaleng.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X