Kota Cerdas, Tantangan dan Investasi... - Kompas.com

Kota Cerdas, Tantangan dan Investasi...

Kompas.com - 10/01/2019, 12:00 WIB
Bunga Tabebuya bermekaran di kawasan Marmoyo (depan Kebun Binatang Surabaya) hingga Jl Diponegoro, Senin (26/11/2018). Tabebuya adalah jenis tanaman yang berasal dari Brasil dengan karakteristiknya sama seperti pohon sakura saat berbunga. Memasuki musim hujan di bulan November bunga bermekaran hingga berasa seperti Jepang dengan bunga sakuranya.SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ Bunga Tabebuya bermekaran di kawasan Marmoyo (depan Kebun Binatang Surabaya) hingga Jl Diponegoro, Senin (26/11/2018). Tabebuya adalah jenis tanaman yang berasal dari Brasil dengan karakteristiknya sama seperti pohon sakura saat berbunga. Memasuki musim hujan di bulan November bunga bermekaran hingga berasa seperti Jepang dengan bunga sakuranya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembangan kota cerdas tak hanya memberikan peluang pada terbukanya pintu investasi yang lebih besar terhadap suatu kota.

Di sisi lain ada tantangan yang harus dihadapi pemerintah daerah untuk mewujudkan tatanan kota yang dinilai lebih memudahkan aktivitas publik tersebut.

Kota Manado dan Kota Padang Panjang adalah dua contoh kota skala sedang dan kecil dari segi jumlah penduduk berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Keduanya berhasil menyabet gelar kota terbaik pada Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018 yang dikeluarkan Litbang Kompas, pada kategori kota sedang dan kecil.

Wali Kota Padang Panjang Fadly Amran mengaku, mengembangkan kotanya sebagai kota cerdas sebenarnya tidak terlalu sulit.

Baca juga: Lagi, Surabaya Juara Kota Cerdas versi Kompas

Sebab, dari sisi anggaran yang dibutuhkan tidak terlalu besar karena luas kotanya yang relatif kecil yaitu hanya 23 kilometer persegi.

"Tentu ini peluang bagi kota kecil, kenapa? Karena kalau kita bicara merenovasi trotoar, misalnya, untuk program layak disabilitas, saya hitung paling hanya perlu beberapa kilometer saja yang perlu diperbaiki. Termasuk smart bus untuk mengangkut para rekan disabilitas kita," kata Fadly saat diskusi di Ruang Maoke Gedung Unit II Kompas Gramedia, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Pulau Manado Tua terlihat dari daratan Kota Manado. Pulau ini menjadi salah satu ikon Manado.Kompas.com/Ronny Adolof Buol Pulau Manado Tua terlihat dari daratan Kota Manado. Pulau ini menjadi salah satu ikon Manado.
Persoalan timbul, kata dia, bila aparat pemerintah tidak siap dengan perubahan yang ada.

Pengembangan kota cerdas umumnya diikuti dengan penerapan sistem teknologi informasi yang bertujuan untuk semakin memudahkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Karena itu, aparat pemerintah dituntut untuk lebih inovatif dalam menjalankan tugasnya. Di samping itu, pemerintah juga terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan di sekolah agar kelak siap untuk mengikuti perkembangan teknologi.

Baca juga: Kisah Manado Sabet Penghargaan Layanan Siaga 112 Internasional

"Kami meningkatkan mutu pendidikan, baik dengan beasiswa guru juara maupun murid juara. Salah satunya bagaimana meningkatkan mutu ini suoaya terintegrasi dengan sistem yang kami bentuk," ucap Fadly.

Sementara itu, Wali Kota Mando Vicky Lumentut juga mengamini pernyataan Wali Kota Padang Panjang terkait keterbatasan SDM berkualitas dalam menghadapi tantangan kota cerdas pada kota skala kecil dan sedang.

"SDM berlatar belakang IT juga masih menjadi persoalan bagi kami. Kami mendorong untuk diberikan pendidikan khusus. Kita beri dukungan dengan APBD Kota Manado," kata Vicky.

Petugas mengamati layar-layar di Bandung Command Center di kompleks Balai Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/3). Bandung Command Center merupakan sistem terpadu pemantau kondisi Kota Bandung untuk pengambilan tindakan yang tepat dan cepat terhadap permasalahan atau pengaturan kota.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Petugas mengamati layar-layar di Bandung Command Center di kompleks Balai Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Jumat (20/3). Bandung Command Center merupakan sistem terpadu pemantau kondisi Kota Bandung untuk pengambilan tindakan yang tepat dan cepat terhadap permasalahan atau pengaturan kota.
Pengembangan kota cerdas di Manado, sebut dia, baru diinisiasi pada November 2016. Namun, realisasi pelaksanaannya baru dilakukan pada Februari 2017 saat Cerdas Command Center (C3) Manado diresmikan.

Meski telah meraih segudang penghargaan karena berhasil mengembangkan command center beserta sembilan aplikasinya, Vicky mengaku, sampai saat ini belum semua warganya dapat menikmati fasilitas tersebut.

Baca juga: Padang Panjang, Kota Cerdas Terbaik Berkat Aspek Kualitas Hidup

Hal itu disebabkan belum sepenuhnya jaringan komunikasi tersambung ke seluruh wilayah Manado.

"Kami akan terus upayakan penambahan jaringan sampai ke tingkat kelurahan. Kami punya 87 kelurahan dan 504 RT/RW," kata Vicky

Persoalan lain yang tak kalah penting yaitu mengubah pola pikir masyarakat untuk siap menghadapi tuntutan kota cerdas.

Tarik investasi

Ketua Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota ITB Ridwan Sutriadi menuturkan, setiap kota menghadapi persoalan berbeda dalam mengembangkan kota cerdas, masalah ekonomi, kemiskinan, kesehatan, tata lingkungan dan lainnya.

Penumpang di bus Transjakarta 13E Ciledug-Kuningan, Kamis (28/6/2018). KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR Penumpang di bus Transjakarta 13E Ciledug-Kuningan, Kamis (28/6/2018).
Persoalan tersebut yang kemudian akan mendorong penyusunan rencana pembangunan oleh pemerintah daerah untuk menyelesaikan setiap persoalan yang ada.

Baca juga: Ada Risma hingga Ahok di Balik Manado Command Center

Adapun rencana pembangunan yang disusun dapat menarik investasi untuk masuk ke suatu daerah, baik itu dari dalam maupun luar negeri.

"Yang harus jadi antisipasi, investasi itu tidak hanya datang ke kota besar atau metropolitan, tapi juga kota menengah dan kota kecil," kata Ridwan.

Ridwan yang juga salah satu juri pakar pada IKCI 2018 itu menambahkan, kota besar dan kota meteropolitan memiliki kecenderungan untuk tumbuh yang lebih cepat dari kota sedang dan kota kecil dari sisi perekonomian dan jumlah penduduk.

Warga bersantai di Taman 3 Generasi, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/6) sore. Tahun 2014, Balikpapan menyabet penghargaan sebagai kota paling layak huni di Indonesia. Meski menggencarkan industri dan perdagangan, Balikpapan masih menyediakan ruang terbuka hijau, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan bagi warganya.KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA Warga bersantai di Taman 3 Generasi, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/6) sore. Tahun 2014, Balikpapan menyabet penghargaan sebagai kota paling layak huni di Indonesia. Meski menggencarkan industri dan perdagangan, Balikpapan masih menyediakan ruang terbuka hijau, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan bagi warganya.
Hal itu disebabkan fasilitas, sarana dan prasarana serta infrastruktur yang relatif lebih lengkap, sehingga mampu membuat investor tertarik.

"Di sisi lain, kota menengah akan relatif tidak berkembang dalam hal pertumbuhan penduduknya, begitu juga kota kecil. Tapi dalam tataran investasi tidak hanya ke kota besar, tapi itu juga ke kota kecil," ujar Ridwan.

Untuk itu, agar terjadi evolusi terhadap skala kota kecil dan sedang, diperlukan perencanaan yang matang.

Misalnya, rencana pembangunan dan revitalisasi tata kota yang dibuat untuk jangka waktu 10-20 tahun mendatang.

Meski dapat dievaluasi setiap lima tahun, namun dengan rencana pengembangan tata kota diharapkan dapat menarik investor untuk membenamkan investasi mereka.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X