Lagi, Surabaya Juara Kota Cerdas versi "Kompas"

Kompas.com - 09/01/2019, 14:29 WIB
Pohon Tabebuya di sekitar Jalan Jemursari SurabayaKOMPAS.com/ACHMAD FAIZAL Pohon Tabebuya di sekitar Jalan Jemursari Surabaya

JAKARTA, KOMPAS.com — Kota Surabaya kembali menempati posisi teratas kategori kota metropolitan pada Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018 yang diselenggarakan Litbang Kompas.

Sebelumnya, kota pahlawan ini menempati posisi yang sama saat IKCI pertama kali diselenggarakan pada 2015.

IKCI 2018 membagi skala kota ke dalam empat kategori berdasarkan jumlah penduduk, yaitu kota metropolitan, besar, sedang, dan kecil.

Kota metropolitan merupakan kota dengan penduduk di atas 1 juta jiwa. Kota besar adalah kota-kota dengan penduduk lebih dari 500.000 hingga kurang dari 1 juta jiwa.

Adapun kota sedang yakni kota yang dihuni lebih dari 100.000 hingga 500.000 jiwa. Sementara kota kecil adalaha kota dengan penduduk maksimal 100.000 jiwa.

Baca juga: Arsitek Dunia Nilai Bandung Leader Kota Cerdas Indonesia

Pada IKCI 2018, Surabaya berhasil meraih skor 67,03. Posisi berikutnya ditempati Semarang dengan skor 63,69, dan Tangerang Selatan dengan skor 61,68.

Warga menikmati suasana Taman Bungkul di Surabaya, Rabu (3/8/2016). Keindahan dan kenyamanan membuat Kota Surabaya menjadi tempat wisata yang memadai.KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Warga menikmati suasana Taman Bungkul di Surabaya, Rabu (3/8/2016). Keindahan dan kenyamanan membuat Kota Surabaya menjadi tempat wisata yang memadai.
Untuk kategori kota besar, ibu kota Provinsi Bali, Denpasar, berhasil menduduki peringkat pertama dengan skor 61,70. Disusul Surakarta (61,03) dan Malang (60,21).

Adapun posisi pertama untuk kategori kota sedang diduduki Kota Manado (59,04), dan diikuti Salatiga (58,99) serta Yogyakarta (58,96).

Terakhir, untuk kategori kota kecil, posisi pertama ditempati Padang Panjang (55,14), Sungai Penuh (55,02) dan Solok (51,64).

Baca juga: Kota Cerdas Berkelanjutan, Solusi Urbanisasi

GM Litbang Kompas F Harianto Santoso menjelaskan, pengukuran IKCI 2018 berbeda dari IKCI 2015.

Bila sebelumnya hanya mengacu pada tiga dimensi yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan, kali ini ada enam dimensi yang digunakan yakni ekonomi, lingkungan, pemerintah, kualitas hidup, mobilitas, dan masyarakat.

"Kemudian, ada juga yang dikatakan kategori kota. Yang tadinya tiga kategori (yaitu) besar, sedang, kecil, sekarang mengikuti UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang ditambah kota metropolitan," kata Harianto di Ruang Maoke Gedung Unit II Kompas Gramedia, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Kapal wisata tenaga surya dilucurkan di sungai Kalimas SurabayaKOMPAS.com/Achmad Faizal Kapal wisata tenaga surya dilucurkan di sungai Kalimas Surabaya
Perbedaan lainnya, bila sebelumnya partisipasi masyarakat lewat opini publik diikutsertakan sebagai penyeimbang atas konstruksi data sekunder, kali ini tak lagi digunakan.

Sebagai gantinya, 12 pakar dari berbagai latar belakang disiplin ilmu direkruit untuk memberikan pembobotan untuk setiap dimensi.

Mereka yang direkruit ini ada yang berasal dari disiplin ilmu perencanaan perkotaan, sosiologi, dan sebagainya.

Melalui pengukuran analythic hierarchy process (AHP) diperoleh bobot dari setiap dimensi dan pilar.

"Dari enam dimensi itu, aspek masyarakat memperoleh skor yang paling tinggi. Sehingga menjadi masuk akal ketika kita ingat lagi, sejak jaman Yunani kuno polis itu adalah masyarkat. Plato menyebut bahwa pemimpin terbaik itu mengarahkan kebijakannya kepada warga (bonum commune)" terang Harianto.

IKCI 2018 menilai 93 kota otonom. Lima kota administratif di Jakarta tidak masuk ke dalam penilaian karena tidak memiliki tanggung jawab anggaran ke DPRD masing-masing.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X