Kompas.com - 23/07/2016, 15:34 WIB
Teras Cikapundung sebagai bagian dari program Restorasi Sungai Cikapundung diresmikan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi pada Sabtu (30/1/2016). Dokumentasi Pusat Komunikasi Publik Kementerian PUPRTeras Cikapundung sebagai bagian dari program Restorasi Sungai Cikapundung diresmikan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi pada Sabtu (30/1/2016).
|
EditorHilda B Alexander

SURABAYA, KOMPAS.com - Kota cerdas berkelanjutan dianggap menjadi salah satu pilar pembangunan perkotaan di Indonesia, terutama untuk menjawab tantangan urbanisasi.

Saat ini tercatat 53 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan. Ini menunjukkan peningkatan enam kali lipat ketimbang medio 1970-an.

Pada dasarnya, kota cerdas berkelanjutan bertujuan menciptakan ruang perkotaan yang berkualitas untuk membuat masyarakat menjadi aman, sehat, sejahtera, bahagia, dan selamat.

Dalam rangka mengembangkan kota cerdas berkelanjutan maka kawasan perkotaan itu harus memiliki 20 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH), 20 persen jalan dan pedestrian, serta pengelolaan sampah yang baik.

Selain itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan mengembangkan kota cerdas berkelanjutan dengan mengembangkan ruang-ruang publik yang memadai sebesar 40 persen dari luas kota.

"Selain melayani sistem internal, kota cerdas berkelanjutan juga bertujuan untuk melayani sistem eksternal wilayah yang lebih berdaya saing, produktif dan efisien sehingga membentuk jejaring kota-kota yang saling terkoneksi satu-sama lain," kata Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR Hermanto Dardak, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (22/7/2016).

Kota cerdas berkelanjutan mampu secara ekologis merespon tantangan perubahan iklim dan memberikan tata kelola perkotaan yang baik.

Dardak mengklaim, saat ini kota cerdas berkelanjutan bukan hanya konsep saja. Kementerian PUPR dalam hal ini telah memulai bermacam inisiatif guna merealisasikan kota cerdas berkelanjutan tersebut.

"Secara garis besar, inisiatif itu terdiri dari delapan atribut pengelolaan kota cerdas berkelanjutan, yakni smart development planning and design, smart open space, smart water, smart waste, smart building, smart energy, smart building and construction, serta smart community," jelasnya.

Salah satu atribut yakni smart development planning and design diakui Dardak diterapkan dalam pengembangan kota berkonsep Transit Oriented Development (TOD) di koridor Jalan Jenderal Sudirman Jakarta.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.