Arsitek Indonesia Menangi Penghargaan Asia Pasifik - Kompas.com

Arsitek Indonesia Menangi Penghargaan Asia Pasifik

Kompas.com - 27/09/2018, 17:38 WIB
Perwakilan Indonesia yang meraih penghargaan LafargeHolcim Awards 2017 Asia Pasifik saat berfoto di Jakarta Design Center (JDC), Jumat (8/12/2017).Ridwan Aji Pitoko/KOMPAS.com Perwakilan Indonesia yang meraih penghargaan LafargeHolcim Awards 2017 Asia Pasifik saat berfoto di Jakarta Design Center (JDC), Jumat (8/12/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua biro arsitek Indonesia ikut mengharumkan nama bangsa melalui ajang 5th Global LafargeHolcim Awards for Sustainable Construction.

Perhelatan ini digelar oleh LafargeHolcim Foundation sebagai wadah kompetisi desain pembangunan berkelanjutan.

Kedua biro arsitek tersebut yaitu SHAU Architects, Bandung, yang diwakili Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann; serta SASO Architects, Jakarta, yang diwakili Andi Subagio, Danna Rasyad, dan Theodorus Alryano.

Baca juga: Para Juara IAI Awards 2018

"LafargeHolcim Awards ini ajang penghargaan untuk sustainable construction di seluruh dunia. Mereka ini pemenang di tingkat global yang diseleksi dari tingkat regional," ujar Sustainable Development Manager PT Holcim Indonesia Tbk Oepoyo Prakoso kepada Kompas.com seusai diskusi bertema "Building Sustainably to Support Education in Indonesia", di Jakarta, Kamis (27/9/2018).

Dia mengatakan, LafargeHolcim Awards  mendorong para arsitek dan ahli bangunan di dunia untuk menampilkan ide-ide melalui desain bangunan yang mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan.

Desain bangunan itu tidak hanya inovatif, tetapi juga berguna bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal.

"Desain yang dibuat itu inovatif, profitable, bernilai sosial, tetap melindungi sumber daya alam, dan memperhatikan kearifan lokal, termasuk pendidikan," ucap Oepoyo.

Sementara itu, Daliana mengatakan, dia membuat bangunan perpustakaan mikro di Bandung untuk mendorong minat baca masyarakat setempat agar bermanfaat bagi masa depan mereka.

"Proyek perpustakaan yang bernama Microlibrary Bima ini bukan hanya menggunakan bahan bangunan dan desain yang ramah lingkungan, melainkan juga bisa bertahan lama," ujar Daliana.

Adapun Andi Subagio dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa desain sekolah yang dibuatnya di Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, itu memakai batako hasil dari masyarakat lokal.

"Sekolah ini bukan cuma tempat belajar mengajar, tapi juga mengakomodasi aktivitas dan menambah keterampilan masyarakat setempat," imbuh Andi.

Dalam 5th Global LafargeHolcim Awards for Sustainable Construction, Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann berhasil menjadi finalis di tingkat global.

Sedangkan Andi Subagio, Danna Rasyad, dan Theodorus Alryano tampil sebagai pemenang kategori Next Generation untuk wilayah Asia Pasifik.



Close Ads X