Kenaikan Harga Rumah Terus Melambat - Kompas.com

Kenaikan Harga Rumah Terus Melambat

Kompas.com - 10/08/2018, 17:44 WIB
Ilustrasi rumah.Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Ilustrasi rumah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor properti, khususnya residensial, belum kembali normal. Perlambatan kenaikan harga masih mewarnai kuartal II-2018.

Bank Indonesia (BI) melalui Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilansir pada Kamis (9/8/2018) mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer.

Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan II-2018 yang tumbuh hanya 0,76 persen, melambat dibandingkan 1,42 persen pada triwulan sebelumnya.

Melambatnya kenaikan harga properti residensial ini, kata BI, terjadi pada semua tipe rumah. BI bahkan, memproyeksikan perlambatan kenaikan harga rumah terus berlanjut pada triwulan III-2018 menjadi 0,55 persen.

Baca juga: Sulitnya Mencari Rumah Seharga Rp 500 Jutaan di Jakarta Selatan

"Secara tahunan, kenaikan harga properti residensial juga melambat dari 3,69 persen pada periode yang sama tahun lalu menjadi 3,26 persen," tulis BI.

Naiknya harga properti residensial pada triwulan II-2018 terutama disebabkan oleh peningkatan harga bahan bangunan dan kenaikan upah pekerja bangunan.

Semua tipe

Secara triwulanan, melambatnya kenaikan harga properti residensial terjadi pada semua tipe rumah.

Ilustrasi rumah subsidi.KOMPAS.com / DANI PRABOWO Ilustrasi rumah subsidi.
Pada triwulan II-2018, kenaikan harga rumah tipe kecil melambat dari 2,30 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 1,35 persen.

Kemudian rumah tipe menengah melambat dari 1,31 persen menjadi 0,68 persen, dan pada rumah tipe besar melambat dari 0,64 persen menjadi 0,27 persen.

Berdasarkan wilayah, kenaikan harga properti residensial tipe kecil terjadi pada hampir semua kota, tertinggi di kota Medan 2,94 persen.

Baca juga: Hanya Bank dengan Kredit Macet KPR di Bawah 5% Bisa Ikut LTV Baru

Secara tahunan, melambatnya kenaikan harga properti residensial terjadi pada tipe rumah kecil dan tipe rumah besar.

Kenaikan harga pada tipe rumah kecil melambat dari 6,07 persen pada triwulan yang sama tahun sebelumnya menjadi 4,77 persen pada triwulan II-2018 dan pada tipe rumah besar melambat dari 1,76 persen menjadi 1,65 persen.

Sementara untuk tipe rumah menengah, kenaikan harga meningkat dari 3,27 persen menjadi 3,40 persen.

Berdasarkan wilayah, kenaikan harga properti residensial tipe menengah terjadi pada hampir semua wilayah, tertinggi di kota Surabaya 6,64 persen.

Penjualan menguat

Meski kenaikan Indeks Harga Properti Residensial secara triwulanan melambat, namun biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk tempat tinggal semakin meningkat.

Ilustrasi.shutterstock Ilustrasi.
Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) sub kelompok biaya tempat tinggal sebesar 0,64 persen, naik dibandingkan 0,63 persen pada triwulan sebelumnya.

Hasil survei menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan properti residensial pada triwulan II-2018 turun sebesar -0,08 persen, lebih rendah dibandingkan 10,55 persen pada triwulan sebelumnya.

Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan -27,20 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurunnya penjualan pada triwulan II-2018 disebabkan oleh penurunan penjualan pada rumah tipe menengah -17,29 persen dan rumah tipe besar -4,00 persen.

Sedangkan penjualan rumah tipe kecil menguat dari -1,97 persen menjadi 11,00 persen.

Sebagian besar responden berpendapat bahwa faktor utama yang menghambat pertumbuhan penjualan properti residensial pada triwulan II-2018 adalah tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), batasan minimum Down Payment (DP) kredit rumah, pajak, dan kenaikan harga bahan bangunan.

Berdasarkan lokasi proyek, pada triwulan II-2018 (posisi Juni 2018) suku bunga KPR tertinggi terjadi di Bengkulu (14,57 persen) dan terendah di Yogyakarta (8,98 persen).

Melambat

Secara triwulanan, kenaikan harga properti residensial pada triwulan III-2018 diperkirakan masih melambat.

Hal ini terindikasi dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial triwulan III-2018 sebesar 0,55 persen lebih rendah dibandingkan 0,76 persen pada triwulan sebelumnya.

Ilustrasi: Pengembang akan menaikkan lagi harga rumah pada 1 Januari 2015.Shutterstock Ilustrasi: Pengembang akan menaikkan lagi harga rumah pada 1 Januari 2015.
Melambatnya kenaikan harga terjadi pada rumah tipe kecil dari 1,35 persen pada triwulan  sebelumnya menjadi 0,78 persen dan rumah tipe menengah dari 0,68 persen menjadi 0,45 persen.

Sedangkan kenaikan harga rumah tipe besar menguat dari 0,27 persen menjadi 0,41 persen. Secara tahunan, kenaikan harga properti residensial pada triwulan III-2018 diperkirakan sedikit meningkat dari triwulan sebelumnya.

Indeks harga properti residensial diperkirakan naik sebesar 3,31 persen pada triwulan III-2018, lebih tinggi dibandingkan 3,26 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan tipe bangunan, kenaikan harga rumah diperkirakan terjadi pada rumah tipe kecil dari 4,77 persen menjadi 4,94 persen dan rumah tipe besar dari 1,65 persen menjadi 1,77 persen.

Sementara itu, kenaikan harga rumah tipe menengah diperkirakan meningkat dari 3,40 persen menjadi 3,26 persen.

Berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah terjadi di hampir semua kota, tertinggi di kota Surabaya 5,41 persen.

 

 

 



Close Ads X