Perjalanan Panjang si Kaca Patri

Kompas.com - 09/07/2018, 20:09 WIB
Kaca patri karya FH Abbing Jr menghiasi salah satu sudut bangunan kuno peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1929, yang kini dijadikan museum Bank Mandiri. PRIYOMBODOKaca patri karya FH Abbing Jr menghiasi salah satu sudut bangunan kuno peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1929, yang kini dijadikan museum Bank Mandiri.

Pertama dengan potongan kaca diselipkan pada cetakan dari timah hitam berpenampang yang berbentuk saluran dengan penampang seperti huruf “H”, yang disebut “lood”.

Teknik ini membutuhkan kecermatan dan ketelitian agar kaca bisa dibentuk sesuai keinginan.

Untuk memperkuat sambungan, digunakan pateri. Baru setelah itu, kaca didempul dengan semen khusus agar tidak bergerak dan tahan terhadap cuaca. Di beberapa tempat, dempul diganti dengan lem plastik atau kaca.

Selain itu, kaca juga bisa disambungkan dengan cara dilukis atau dengan teknik pembakaran. Teknik ini dikenal dengan nama teknik enamel.

Bahkan LC Tiffany, seorang desainer kaca terkenal Amerika juga turut mengenalkan teknik penyambungan kaca dengan lembaran tembaga, yang kemudian dipatri menjadi timah putih.

Kini, teknik penyambungan kaca patri cukup beragam, mulai dari penggunaan kuningan, tembaga, atau seng.

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kuningan misalnya, akan tampak kuning berkilat sehingga terkesan mewah. Sedangkan timah akan memberikan kesan klasik pada kaca.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X