Paviliun Unik Indonesia Tampil di Venice Architecture Biennale - Kompas.com

Paviliun Unik Indonesia Tampil di Venice Architecture Biennale

Kompas.com - 27/05/2018, 18:00 WIB
Paviliun Indonesia yang menampilkan bentangan kertas menggantung di ruang Arsenale.Courtesy Venice Architecture Biennale/Metropolismag.com Paviliun Indonesia yang menampilkan bentangan kertas menggantung di ruang Arsenale.

KOMPAS.com - Indonesia kembali berpartisipasi dalam International Architecture Exhibition of La Biennale di Venezia, Italia, yang diselenggarakan pada 26 Mei hingga 25 November 2018.

Ini merupakan keikutsertaan Indonesia untuk kali kedua dalam pameran seni berskala dunia itu, sebelumnya pernah ikut pada tahun 2014.

Kali ini paviliun Indonesia tampil dengan tema “Sunyata: The Poetics of Emptiness”. Seperti diberitakan Metropolismag.com, Sabtu (26/5/2018), paviliun Indonesia terlihat memesona dalam kesederhanaannya.

Baca juga: 6 Kurator Muda Wakili Indonesia di La Biennale Architettura Venesia

Potongan kertas menggantung dari satu ujung bingkai ke ujung lainnya membentuk lengkungan panjang di ruang Arsenale. Pengunjung bisa berjalan di antara lengkungan kertas itu atau mengamati kurva di profil.

Penampilannya terlihat mendobrak dasar-dasar arsitektur, serta mengelola ruang dan orang-orang di sekitarnya. Terkadang yang Anda butuhkan hanyalah selembar kertas.

Sebagaimana keterangan tertulis yang diterima Kompas.com dari perwakilan Indonesia yang mengikuti perhelatan itu, disebutkan bahwa selama ini arsitektur Indonesia sudah mengakar dengan konsep kekosongan.

Sementara Sunyata ditempatkan sebagai dialog antara manusia dan ruang sebagai inti dari manifestasi arsitektur.

Paviliun Indonesia itu secara keseluruhan terbuat dari kertas berukuran 21 meter, 18 meter di antaranya membentang di dalam ruang Arsenale dan membagi ruangan menjadi dua.

Beberapa karya arsitektur yang memiliki fenomena ini (kekosongan) juga ditampilkan dalam pameran di obyek wisata Taman Sari di Yogyakarta, bangunan kolonial Stasiun Beos di Jakarta, Mueseum Tsunami di Banda Aceh, dan Jonas Studio di Bandung.

Dalam mengikuti pameran ini, Indonesia diwakili oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), dan enam orang anggota tim kurator yang berasal dari latar belakang berbeda, yaitu arsitek, peneliti, desainer paviliun, dan penerapan teknologi.



Close Ads X