Titik Kritis Jalur Mudik Tol Trans Jawa - Kompas.com

Titik Kritis Jalur Mudik Tol Trans Jawa

Kompas.com - 16/04/2018, 11:58 WIB
Titik kritis di ruas Tol Pemalang-Batang sepanjang 4,6 kilometer berupa tanah lunak atau soft soil yang pembangunannya harus menggunakan vacuum consolidation method (VCM). Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).Hilda B Alexander/Kompas.com Titik kritis di ruas Tol Pemalang-Batang sepanjang 4,6 kilometer berupa tanah lunak atau soft soil yang pembangunannya harus menggunakan vacuum consolidation method (VCM). Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendati Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memastikan seluruh ruas Tol Trans Jawa sudah bisa dilintasi secara operasional dan fungsional saat mudik dan balik Lebaran 2018, namun ternyata masih ada titik- titik kritis yang mendesak untuk diselesaikan.

Titik-titik kritis di rentang Trans Jawa ini terutama terdapat di ruas Tol Pemalang-Batang, Tol Batang-Semarang, dan Tol Semarang-Solo.

Baca juga : Mudik 2018, Tak Ada Lagi Jalur Darurat

Di ruas Tol Pemalang-Batang sepanjang 39,2 kilometer, titik kritisnya terdapat di sepanjang 4,6 kilometer dengan tingkat kompleksitas sedang. 

Basuki menjelaskan, titik kritis ini membutuhkan teknik konstruksi khusus karena dibangun di atas tanah lunak yang tebal (soft soil) dengan kandungan air tinggi.

Titik kritis di ruas Tol Pemalang-Batang sepanjang 4,6 kilometer yang merupakan tanah lunak dan pembangunannya harus menggunakan vacuum consolidation methode (VCM). Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).Hilda B Alexander/Kompas.com Titik kritis di ruas Tol Pemalang-Batang sepanjang 4,6 kilometer yang merupakan tanah lunak dan pembangunannya harus menggunakan vacuum consolidation methode (VCM). Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).
Untuk itu Basuki memutuskan konstruksinya menggunakan teknologi Vacuum Consolidation Method (VCM). Sementara lokasi lainnya menggunakan teknik preloading.

Selain itu, percepatan dilakukan dengan meningkatkan intensitas pekerjaan penimbunan tanah dari semula 5.000 kubik per hari, menjadi 25.000 kubik per hari. Ruas yang sudah selesai ditimbun dilanjutkan dengan penghamparan batu agregat.

“Pertengahan Mei sudah bisa dimulai pengaspalan dan akan selesai dalam dua minggu. Saya akan ke sini lagi untuk melakukan pengecekan pada awal Mei 2018,” kata Basuki menjawab Kompas.com, saat meninjau proyek Tol Pemalang-Batang-Semarang-Solo, Sabtu (14/4/2018).

Secara umum, perkembangan konstruksi Ruas Tol Pemalang-Batang sudah mencapai 60 persen dan ditargetkan rampung akhir 2018.

Pengusahaan tol ini dikerjakan oleh PT Pemalang Batang Toll Road yang sahamnya dimiliki oleh PT Waskita Toll Road dan PT Sumber Mitra Jaya dengan nilai investasi sebesar Rp 7,49 triliun.

Titik kritis Ruas Tol Batang-Semarang terdapat pada pembangunan Jembatan Kalikuto sepanjang 100 meter. Jembatan ini selesai dirakit pada minggu ke-3 April 2018. Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).Hilda B Alexander/Kompas.com Titik kritis Ruas Tol Batang-Semarang terdapat pada pembangunan Jembatan Kalikuto sepanjang 100 meter. Jembatan ini selesai dirakit pada minggu ke-3 April 2018. Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).
Sementara itu titik kritis kedua terdapat di Ruas Tol Batang-Semarang yakni Jembatan Kali Kuto sepanjang 100 meter.

Namun begitu Basuki optimistis, jembatan dengan desain pelengkung tersebut akan terpasang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan yakni minggu ke-3 April 2018.

Baca juga : Jembatan Kalikuto, Ikon Tol Batang-Semarang Dirakit di Tiga Tempat

Selain itu, progres konstruksi ruas Tol Batang-Semarang saat ini sudah mencapai 75,4 persen. Sedangkan pembebasan lahannya sudah mencapai 98 persen.

Dia menambahkan, dengan selesainya Jembatan Kali Kuto, pemudik dapat melalui ruas ini hingga exit toll Krapyak, Semarang Barat, yang menjadi akhir dari Ruas Tol Batang-Semarang. Tahun lalu ruas tol ini difungsikan secara darurat hingga Gringsing, Kabupaten Kendal.

Pembangunan Jalan Tol Batang-Semarang dibagi menjadi 5 seksi. Seksi 1 Batang-Batang Timur (3,20 kilometer), Seksi II Batang Timur-Weleri (36,35 kilometer), dan Seksi III Weleri-Kendal (11,05 kilometer).

Kemudian Seksi IV Kendal-Kaliwungu (13,50 kilometer), dan Seksi V Kaliwungu-Krapyak (10,10 kilometer). Sesuai rencana, akan terdapat 5 Gerbang Tol (GT) yaitu GT Tulis, GT Weleri, GT Kendal, GT Kaliwungu dan GT Kalikangkung.  

Titik kritis Ruas Tol Batang-Semarang terdapat pada pembangunan Jembatan Kalikuto sepanjang 100 meter. Jembatan ini selesai dirakit pada minggu ke-3 April 2018. Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).Hilda B Alexander/Kompas.com Titik kritis Ruas Tol Batang-Semarang terdapat pada pembangunan Jembatan Kalikuto sepanjang 100 meter. Jembatan ini selesai dirakit pada minggu ke-3 April 2018. Kondisi fisik pada Sabtu (14/4/2018).
Pengusahaan Tol Batang-Semarang dilakukan melalui investasi PT Jasamarga Batang-Semarang dengan komposisi saham dimiliki oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Titik kritis ketiga adalah pembangunan Jembatan Kenteng yang melintasi Kali Kenteng dan Kali Serang pada ruas Tol Semarang-Solo Seksi IV dan V. Karena itu, jembatan ini belum siap digunakan saat mudik Lebaran 2018.  

Baca juga : Skenario Baru Jalur Mudik di Bawah Jembatan Kenteng

Untuk mengatasinya, PT Trans Marga Jateng sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang sahamnya dimiliki oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Astra Infra, dan PT pembangunan Sarana Jawa Tengah menjalankan skenario kedua yakni membangun jalan permanen sepanjang 500 meter dengan lebar 7 meter.

"Kami akan membeli lahan baru seluas 3.000 meter persegi dengan kebutuhan dana sekitar Rp 1,5 miliar untuk menjalankan skenario kedua ini," ujar Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Desy Arryani.  

Konstruksi Jembatan Kenteng belum rampung dan tidak bisa digunakan saat mudik Lebaran 2018.Hilda B Alexander/Kompas.com Konstruksi Jembatan Kenteng belum rampung dan tidak bisa digunakan saat mudik Lebaran 2018.
Eksekusi pembelian lahan ini akan dilaksanakan Senin (16/4/2018). Seraya menunggu eksekusi lahan, skenario pertama berupa pembangunan jembatan tetap dilakukan dengan kecepatan penuh.  

"Meski fully speed, kami mengutamakan keselamatan dan keamanan kerja. Safety first," kata Desy.  

Ada pun jalur ini dikerjakan dengan konstruksi rigid pavement yang nantinya bisa digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai akses utama setelah perhelatan mudik dan balik Lebaran.  

Jalan Tol Trans-Jawa sendiri ditargetkan rampung pada akhir 2019 yang menghubungkan Merak hingga Banyuwangi sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat peresmian Tol Ngawi-Wilangan, 16 Maret 2018 lalu.  

 



Close Ads X