Mudik 2018, Tak Ada Lagi Jalur Darurat - Kompas.com

Mudik 2018, Tak Ada Lagi Jalur Darurat

Kompas.com - 14/04/2018, 21:43 WIB
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat meninjau pekerjaan konstruksi Tol Pemalang-Batang, Sabtu (14/4/2018).Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono saat meninjau pekerjaan konstruksi Tol Pemalang-Batang, Sabtu (14/4/2018).

PEMALANG, KOMPAS.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memastikan Jalan Tol Trans Jawa dari Jakarta hingga Surabaya bisa digunakan saat mudik dan balik Lebaran 2018.

Sebagian besar kondisi fisik jalan tol sepanjang 661 kilometer tersebut nantinya dalam keadaan operasional penuh dan sebagian kecil lainnya fungsional.

"Tidak seperti tahun 2017 lalu, yang masih ada menggunakan jalur darurat. Mudik tahun ini kami pastikan tidak ada lagi jalur darurat," ujar Basuki menjawab Kompas.com, saat meninjau Pekerjaan Proyek Konstruksi Ruas Tol Pemalang-Batang-Semarang-Salatiga, Sabtu (14/4/2018). 

Menurut Basuki, finalisasi pemeriksaan jalur terakhir akan dilakukan pada 31 Mei 2018 mendatang secara bersama-sama antara Kementerian PUPR, Kepolisian RI melalui Kakorlantas, dan Kementerian Perhubungan.

"Tepatnya, dua minggu sebelum Lebaran, kami akan melakukan checking final persiapannya," tambah Basuki.

Basuki merinci, Ruas Tol Pejagan-Pemalang Seksi III dan IV sepanjang 37 kilometer dari Brebes Timur hingga Pemalang sudah bisa dioperasikan.

Dengan demikian pada mudik Lebaran 2018, pemudik yang ke arah Semarang tidak lagi harus keluar Pintu Tol Brebes Timur, namun bisa meneruskan ke ruas Tol Pemalang-Semarang sepanjang 114,2 kilometer yang akan dibuka fungsional atau belum dikenakan tarif tol.

Kondisi Seksi I Ruas Tol Pemalang-Pekalongan Sabtu (14/4/2018).Kompas.com / Hilda B Alexander Kondisi Seksi I Ruas Tol Pemalang-Pekalongan Sabtu (14/4/2018).
“Kondisi jalan yang fungsional sudah mengalami perkerasan beton atau aspal yang kualitasnya lebih baik dari lean concrete,” kata Basuki.

Sementara, pekerjaan ruas Tol Pemalang-Batang dengan panjang total 39,2 kilometer juga mengalami percepatan pada Seksi 1 Pemalang-Pekalongan sepanjang 17 kilometer yang merupakan titik kritis.

Titik kritis ini diatasi dengan menggunakan teknologi konstruksi jalan bernama Vacuum Consolidation Method (VCM).

Selain itu, percepatan dilakukan dengan meningkatkan intensitas pekerjaan penimbunan tanah dari semula 5.000 kubik per hari, menjadi 25.000 kubik per hari. Ruas yang sudah selesai ditimbun dilanjutkan dengan penghamparan batu agregat.

“Pertengahan Mei sudah bisa dimulai pengaspalan dan akan selesai dalam dua minggu. Saya akan ke sini lagi untuk melakukan pengecekan pada awal Mei 2018,” imbuh Basuki.

Pengusahaan jalan tol Pemalang-Batang dilakukan melalui investasi PT Pemalang Batang Toll Road yang sahamnya dimiliki oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Sumber Mitra Jaya.

Dua Titik kritis

Dalam rentang Jalan Tol Trans-Jawa ruas Batang-Semarang dan Semarang-Salatiga serta Salatiga-Kartosuro terdapat dua titik kritis lainnya yang cukup signifikan memengaruhi percepatan konstruksi.

Kondisi terkini Seksi II Tol Pekalongan-Batang, Sabtu (14/4/2018).Kompas.com / Hilda B Alexander Kondisi terkini Seksi II Tol Pekalongan-Batang, Sabtu (14/4/2018).
Titik kritis pertama adalah pembangunan Jembatan Kali Kuto pada ruas Tol Batang-Semarang sepanjang 75 kilometer.

Namun begitu Basuki optimistis, jembatan dengan desain pelengkung tersebut akan terpasang sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan yakni minggu ke-3 April 2018.

Selain itu, progres konstruksinya saat ini sudah mencapai 75,4 persen. Sedangkan pembebasan lahannya sudah mencapai 98 persen.

Pengusahaan Tol Batang-Semarang dilakukan melalui investasi PT Jasamarga Batang-Semarang dengan komposisi saham dimiliki oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Titik kritis kedua adalah pembangunan Jembatan Kenteng yang melintasi Kali Kenteng dan Kali Serang pada ruas Tol Semarang-Solo Seksi IV dan V. Karena itu, jembatan ini belum siap digunakan saat mudik Lebaran 2018.
 
Untuk mengatasinya, PT Trans Marga Jateng sebagai Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang sahamnya dimiliki oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Astra Infra, dan PT pembangunan Sarana Jawa Tengah menjalankan skenario kedua yakni membangun jalan permanen sepanjang 500 meter dengan lebar 7 meter.
 
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meninjau pembangunan ruas Tol Pemalang-Batang di titik kritis Jembatan Kali Kuto, Sabtu (14/4/2018).Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Menteri PUPR Basuki Hadimuljono meninjau pembangunan ruas Tol Pemalang-Batang di titik kritis Jembatan Kali Kuto, Sabtu (14/4/2018).
"Kami akan membeli lahan baru seluas 3.000 meter persegi dengan kebutuhan dana sekitar Rp 1,5 miliar untuk menjalankan skenario kedua ini," timpal Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Desy Arryani.
 
Eksekusi pembelian lahan ini akan dilaksanakan Senin (16/4/2018). Seraya menunggu eksekusi lahan, skenario pertama berupa pembangunan jembatan tetap dilakukan dengan kecepatan penuh.
 
"Meski fully speed, kami mengutamakan keselamatan dan keamanan kerja. Safety first," kata Desy.
 
Ada pun jalur ini dikerjakan dengan konstruksi rigid pavement yang nantinya bisa digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai akses utama setelah perhelatan mudik dan balik Lebaran.
 
Jalan Tol Trans-Jawa ditargetkan rampung pada akhir 2019 yang menghubungkan Merak hingga Banyuwangi sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat peresmian Tol Ngawi-Wilangan, 29 Maret 2018 lalu.
 



Close Ads X