Kompas.com - 21/03/2018, 23:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Insiden kecelakaan kerja proyek konstruksi dan infrastruktur yang terjadi beberapa waktu terakhir, disebabkan oleh faktor berbeda-beda.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkapkan, secara umum ada dua penyebab utama kasus kecelakaan kerja tersebut.

“Yang pertama yaitu permasalahan sumber daya manusia (SDM), dan yang kedua permasalahan peralatan,” kata Basuki saat rapat kerja dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Rabu (21/3/2018).

Soal SDM, Basuki menuturkan, setiap kontraktor telah memiliki prosedur operasional standar (SOP) yang ditetapkan pada saat melaksanakan pekerjaan. Namun, karena kelalaian dan ketidakpatuhan terhadap SOP, akhirnya insiden pun tak dapat terelakkan.

Kelalaian itu biasanya terjadi akibat lantaran kontraktor merasa telah terbiasa melaksanakan pekerjaan yang sama. Seperti pada insiden ambruknya bekisting pierhead Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang digarap PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

“Itu ternyata pengawasnya tidak ada di tempat. Kalau pengawasan rendah, ini bisa menjadi penyebab kecelakaan konstruksi,” tambah Basuki.

Petugas dari kepolisian mengecek kondisi pasca robohnya cetakan beton tiang pancang proyek Jalan Tol Becakayu, di Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/02/2018). Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 03.00 WIB saat pekerja sedang melakukan pengecoran. Terdapat tujuh korban yang dilarikan ke Rumah Sakit UKI dan Polri.MAULANA MAHARDHIKA Petugas dari kepolisian mengecek kondisi pasca robohnya cetakan beton tiang pancang proyek Jalan Tol Becakayu, di Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/02/2018). Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 03.00 WIB saat pekerja sedang melakukan pengecoran. Terdapat tujuh korban yang dilarikan ke Rumah Sakit UKI dan Polri.
Sementara dalam hal peralatan, menurut dia, faktor keamanan atau safety factor yang diterapkan saat pekerjaan masih rendah, sehingga mengakibatkan kecelakaan kerja.

Pasca insiden ambruknya bekisting pierhead proyek Tol Becakayu, Basuki menuturkan, Kementerian PUPR telah menerjunkan Komite Keselamatan Konstruksi (K2) untuk menghentikan sementara proyek-proyek yang memiliki konstruksi layang.

Dari 37 proyek yang dihentikan dan dievaluasi, 31 di sntaranya telah melakukan presentasi ke Komite K2 dan mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan kembali.

Sementara dua lainnya, telah dilakukan Provisional Hand Over (PHO) yaitu Tol Mojokerto-Kertosono dan Tol Ngawi-Kertosono.

“Tiga Badan Usaha belum memulai konstruksi fisik yaitu Serpong-Balaraja, Serang-Panimbang, dan Jasa Marga Jakarta-Cikampek Selatan, serta satu Badan Usaha sudah tidak ada pekerjaan layang yaitu Cinere-Jagorawi,” tuntas Basuki

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.