87 Persen Kecelakaan Kerja Disebabkan Kesalahan Manusia

Kompas.com - 28/02/2018, 18:30 WIB
Kondisi girder tol Becakayu di jalan DI Panjaitan, Selasa (20/2/2018) Kompas.com/Setyo AdiKondisi girder tol Becakayu di jalan DI Panjaitan, Selasa (20/2/2018)

DEPOK, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanudin mengatakan ada beberapa hal yang menjadi patokan pemerintah dalam mengevaluasi kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur.

Pertama adalah pemetaan masalah, kemudian dampak, hingga yang terakhir kesimpulan. Pada tahap kesimpulan, human error atau kesalahan manusia paling dominan menyebabkan kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur.

Baca juga : Under Design Picu Kecelakaan Kerja Proyek Infrastruktur

"Hasil penelitian yang kita baca beberapa beberapa kali memang 87 persen adalah faktor manusianya setelah itu alatnya, sisanya faktor lain seperti cuaca," ujar Syarif saat memberi paparan kunci atau key note speech di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Depok, Rabu (28/2/2018).

Kondisi pasca ambruknya crane proyek Double Double Track (DDT) di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta, Minggu (04/02/2018). Alat berat yang ambruk tersebut menewaskan empat pekerja yang masih berada di lokasi kecelakaan.MAULANA MAHARDHIKA Kondisi pasca ambruknya crane proyek Double Double Track (DDT) di Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta, Minggu (04/02/2018). Alat berat yang ambruk tersebut menewaskan empat pekerja yang masih berada di lokasi kecelakaan.
Menurut Syarif, sumber masalah yang terbanyak adalah tidak tertibnya tahapan pelaksanaan, perencanaan, dan pengawasan.

Baca juga : Soal Kecelakaan Kerja, Skema m-SHEL Perlu Diperhatikan

Ia pun menekankan kedisiplinan pada peren anaan dan pengawasan harus ditingkatkan. Selama ini, budaya disiplin pekerja Indonesia masih kalah dengan pekerja asing.

"Teknologi kita oke, tapi skill atau keterampilan kita masih kurang," sebut Syarif.

Padahal, imbuh dia, tenaga kerja Indonesia juga dibutuhkan oleh negara-negara lain. Oleh sebab itu, kedisiplinan dan pengawasan para pekerja harus ditingkatkan.

Kontruksi jembatan tol Pasuruan Probolinggo mendadak ambrol saat proses pemgerjaan di Desa Cukurgondang Kec. Grati Kab. Pasuruan.KOMPAS.com/Moh.Anas Kontruksi jembatan tol Pasuruan Probolinggo mendadak ambrol saat proses pemgerjaan di Desa Cukurgondang Kec. Grati Kab. Pasuruan.
Di tingkat pengawasan, konsultanlah yang paling bertanggung jawab. Sementara selama ini, konsultan proyek tidak mengawasi secara maksimal.

Baca juga : Ada Apa dengan Waskita Karya?

Lebih jauh lagi, ada beberapa pemilik proyek yang menyewa konsultan dengan kompetensi di bawah kontraktor. Idealnya, konsultan lebih berpengalaman dibandingkan kontraktor.

"Konsultan ini tugasnya menyetujui pekerjaan-pekerjaan tertentu sesuai kondisi di lapangan, tapi sekarang konsultan tidak memaksimalkan kewenangannya," ucap Syarif.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X