Kompas.com - 28/10/2017, 18:17 WIB
Pengunjung saat mengantri untuk membeli pakaian diskon di Lotus Department Store, Djakarta Theater XXI, Jakarta, Rabu (25/10/2017). Lotus Department Store akan ditutup pada 26 Oktober 2017. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPengunjung saat mengantri untuk membeli pakaian diskon di Lotus Department Store, Djakarta Theater XXI, Jakarta, Rabu (25/10/2017). Lotus Department Store akan ditutup pada 26 Oktober 2017. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Pergeseran gaya hidup masyarakat yang memilih berbelanja daring atau online, berdampak cukup besar bagi industri ritel konvensional. Namun, fenomena yang cenderung digandrungi generasi milenial ini, disebut bukanlah fenomena baru.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, para pengusaha yang bergerak di bisnis ritel sebenarnya selalu mengikuti perkembangan pola berbelanja masyarakat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mulai dari penerapan teknologi kasir, barcode, perkembangan itu terus kami ikuti. Sampai online yang pada zaman itu belum orang mengerti, kami pun duluan yang memulai," ujar Tutum dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (28/10/2017).

Menurut dia, sekitar 15 tahun yang lalu, para pemilik usaha ritel sebenarnya sudah pernah menerapkan sistem belanja daring. Namun, perkembangan teknologi yang pada waktu itu belum semasif saat ini, membuat bisnis ritel daring tak banyak diminati.

"Artinya apa? Saat ini sudah sangat cocok, subur. Teknologinya begitu hebat, payment gateway-nya sudah mulai, distribusinya sangat baik, inilah yang mempercepat. Nah inilah yang diikuti oleh temen-temen kami," kata dia.

Tutum tak menampik bisnis daring memberikan dampak terhadap tutupnya sejumlah ritel besar di Tanah Air, seperti Matahari, 7-Eleven, hingga Lotus Departement.

Bahkan, Pasar Glodok yang pada era 1990-an hingga awal tahun 2000-an sangat menunjukkan taringnya, kini redup pamornya.

Namun selain itu, menurut dia, faktor lain yang menyebabkan banyak gerai ritel tutup lantaran daya beli masyarakat turun. Masyarakat pun cenderung mulai jarang menyambangi pusat-pusat perbelanjaan dalam beberapa waktu terakhir.

"Itu fakta. Sementara, peritel harus bayar sewa itu kan makin lama makin tinggi. Gaji karyawan makin lama juga makin tinggi," kata dia.

Untuk mengatasi persoalan itu, tak jarang para pebisnis memilih menutup sebagian toko mereka, sambil secara bertahap beralih ke bisnis daring.

"Mungkin toko itu yang kalau dulu 100 toko, hanya sekian puluh (disisakan). Yang hanya orang coba-coba itu kami kirim," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.