Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Bisnis Belanja "Online" Sudah Ada Sejak 15 Tahun Lalu

JAKARTA, KompasProperti - Pergeseran gaya hidup masyarakat yang memilih berbelanja daring atau online, berdampak cukup besar bagi industri ritel konvensional. Namun, fenomena yang cenderung digandrungi generasi milenial ini, disebut bukanlah fenomena baru.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, para pengusaha yang bergerak di bisnis ritel sebenarnya selalu mengikuti perkembangan pola berbelanja masyarakat.

"Mulai dari penerapan teknologi kasir, barcode, perkembangan itu terus kami ikuti. Sampai online yang pada zaman itu belum orang mengerti, kami pun duluan yang memulai," ujar Tutum dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (28/10/2017).

Menurut dia, sekitar 15 tahun yang lalu, para pemilik usaha ritel sebenarnya sudah pernah menerapkan sistem belanja daring. Namun, perkembangan teknologi yang pada waktu itu belum semasif saat ini, membuat bisnis ritel daring tak banyak diminati.

"Artinya apa? Saat ini sudah sangat cocok, subur. Teknologinya begitu hebat, payment gateway-nya sudah mulai, distribusinya sangat baik, inilah yang mempercepat. Nah inilah yang diikuti oleh temen-temen kami," kata dia.

Tutum tak menampik bisnis daring memberikan dampak terhadap tutupnya sejumlah ritel besar di Tanah Air, seperti Matahari, 7-Eleven, hingga Lotus Departement.

Bahkan, Pasar Glodok yang pada era 1990-an hingga awal tahun 2000-an sangat menunjukkan taringnya, kini redup pamornya.

Namun selain itu, menurut dia, faktor lain yang menyebabkan banyak gerai ritel tutup lantaran daya beli masyarakat turun. Masyarakat pun cenderung mulai jarang menyambangi pusat-pusat perbelanjaan dalam beberapa waktu terakhir.

"Itu fakta. Sementara, peritel harus bayar sewa itu kan makin lama makin tinggi. Gaji karyawan makin lama juga makin tinggi," kata dia.

Untuk mengatasi persoalan itu, tak jarang para pebisnis memilih menutup sebagian toko mereka, sambil secara bertahap beralih ke bisnis daring.

"Mungkin toko itu yang kalau dulu 100 toko, hanya sekian puluh (disisakan). Yang hanya orang coba-coba itu kami kirim," ujarnya.

https://properti.kompas.com/read/2017/10/28/181754021/bisnis-belanja-online-sudah-ada-sejak-15-tahun-lalu

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar