Indonesia, Malaysia, dan Thailand Bersaing Menjadi "Tertinggi"

Kompas.com - 04/01/2015, 15:19 WIB
Menara KL118, Kuala Lumpur, Malaysia. CTBUHMenara KL118, Kuala Lumpur, Malaysia.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Kredo Olimpiade, citius, altius, dan fortius atau tercepat, tertinggi, dan terkuat rupanya sudah mewabah di dunia properti dan konstruksi.

Sesama negeri jiran, Indonesia, Malaysia, dan Thailand kini tengah berlomba menjadi yang terdepan dalam pembangunan pencakar langit.

Statistik Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) menampilkan komparasi aktivitas pembangunan gedung jangkung di ketiga negara tersebut. Komparasi dilakukan atas jumlah gedung yang dikembangkan, populasi gedung yang rampung pembangunannya (completion), dan ketinggian.

Kompetisi pencakar langit, sejatinya mulai berlangsung sejak 1996. Saat itu, praktis, Indonesia, Malaysia, dan Thailand terlibat dalam rivalitas pembangunan gedung-gedung komersial dengan fungsi sebagai hunian, perkantoran, dan juga hotel.

Tahun 1996, Thailand sebagai salah satu macan Asia mampu mengungguli Indonesia dan Malaysia. Negeri Gajah Putih ini bisa membangun lima pencakar langit dengan ketinggian bervariasi serentang 165 meter hingga 221 meter. Kelima gedung jangkung tersebut adalah RS Tower, Tipco Tower, Abdulrahim Place, Thai Wah Tower II, dan Jewelry Trade Center.

Sementara Indonesia, meski kalah dalam populasi gedung, namun sanggup membangun Amartapura I setinggi 163 meter dan BNI Tower atau Wisma 46 yang menjulang 262 meter. BNI Tower ini sekaligus didapuk sebagai pencakar langit tertinggi ketiga di Asia Tenggara pada saat itu, setelah United Overseas Bank Plaza One, setinggi 280 meter, dan Overseas Union Center (278). Kedua gedung ini berada di Singapura.

Sedangkan Malaysia, pada tahun 1996 masih dianggap "anak bawang" karena hanya bisa mendirikan satu pencakar langit yakni Menara TA One dengan ketinggian 151 meter.

Namun, keadaan berbalik, saat Thailand membuktikan diri sebagai Macan Asia sejati. Tahun 1997, Baiyoke Tower II menjungkalkan rekor United Overseas Bank Plaza One. Baiyoke Tower II mengangkasa 304 meter (supertall) dansukses menjadi ikon negara sekaligus terjangkung di Asia Tenggara.

Tak hanya satu pencakar langit yang dikembangkan Thailand, juga dua lainnya yakni Italthai Tower setinggi 163 meter dan Jasmine International Tower dengan ketinggian 206 meter.

Medio tersebut Indonesia cuma memperkaya kaki langit Jakarta dengan dua menara InterContinental atau MidPlaza sejangkung 155 meter dan Menara Kadin 169 meter. Sementara Malaysia, vakum merampungkan gedung.

Rivalitas kian sengit setahun berikutnya. Pada kurun waktu itu, saat krisis multidimensi melanda sebagian negara Asia Tenggara, Malaysia justru sukses membangun reputasi di kancah pencakar langit dunia dengan Petronas Tower. Menara kembar ini merupakan supertall pertama Malaysia yang mengangkasa 452 meter.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Investasi Rp 450 Miliar, Pengembang Ini Bangun 'Little Singapore' di Tangerang

Investasi Rp 450 Miliar, Pengembang Ini Bangun "Little Singapore" di Tangerang

Perumahan
Ini Teknologi Pereduksi Kerusakan Infrastruktur Layang Saat Gempa

Ini Teknologi Pereduksi Kerusakan Infrastruktur Layang Saat Gempa

Konstruksi
Fakta Seputar Tol Pekanbaru-Dumai yang Dilengkapi Terowongan Gajah

Fakta Seputar Tol Pekanbaru-Dumai yang Dilengkapi Terowongan Gajah

Konstruksi
Berpotensi Likuefaksi, Jalan di Bandara YIA Dibangun dengan Metode 'Dynamic Compaction'

Berpotensi Likuefaksi, Jalan di Bandara YIA Dibangun dengan Metode "Dynamic Compaction"

Konstruksi
Kabar Terbaru Tol Akses Pelabuhan Patimban, Finalisasi Kelayakan Bisnis

Kabar Terbaru Tol Akses Pelabuhan Patimban, Finalisasi Kelayakan Bisnis

Konstruksi
Bersama China, BMKG Kembangkan 3 Sistem Baru Deteksi Gempa dan Tsunami

Bersama China, BMKG Kembangkan 3 Sistem Baru Deteksi Gempa dan Tsunami

Berita
Jumat Besok, Tol Pekanbaru-Dumai 131 Kilometer Diresmikan Jokowi

Jumat Besok, Tol Pekanbaru-Dumai 131 Kilometer Diresmikan Jokowi

Konstruksi
BMKG Manfaatkan IoT dalam Mendeteksi Tsunami, Begini Cara Kerjanya

BMKG Manfaatkan IoT dalam Mendeteksi Tsunami, Begini Cara Kerjanya

Berita
Kementerian ATR/BPN Berhasil Mendaftarkan 24 Juta Bidang Tanah

Kementerian ATR/BPN Berhasil Mendaftarkan 24 Juta Bidang Tanah

Berita
Lokakarya Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Resmi Digelar

Lokakarya Megastruktur dan Infrastruktur Tahan Gempa Resmi Digelar

Konstruksi
[POPULER PROPERTI] Proyek Infrastruktur Harus Berlanjut di Tengah Ancaman Resesi

[POPULER PROPERTI] Proyek Infrastruktur Harus Berlanjut di Tengah Ancaman Resesi

Berita
Oktober 2020, Jalan Akses Pelabuhan Patimban Siap Layani Arus Logistik

Oktober 2020, Jalan Akses Pelabuhan Patimban Siap Layani Arus Logistik

Konstruksi
Hong Kong Kingland Buka Kampus Universitas Sahid, Bidik 300 Mahasiswa

Hong Kong Kingland Buka Kampus Universitas Sahid, Bidik 300 Mahasiswa

Apartemen
Malam Ini, Lalu Lintas di Tol Cipularang Menuju Jakarta Dialihkan

Malam Ini, Lalu Lintas di Tol Cipularang Menuju Jakarta Dialihkan

Berita
NTB Tawarkan 8 Proyek Unggulan kepada Investor

NTB Tawarkan 8 Proyek Unggulan kepada Investor

Kawasan Terpadu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X