Kompas.com - 14/12/2014, 23:29 WIB
|
EditorHilda B Alexander
BEKASI, KOMPAS.com - Jumlah investor yang menanamkan dananya di sektor hunian sudah mulai berkurang. Hal itu terjadi sejak semester II 2013 hingga jelang akhir tahun ini. Sebaliknya, jumlah pengguna akhir (end user) semakin meningkat.

"Jika pada 2010 sampai awal 2013 komposisi investor sekitar 60 persen hingga 65 persen, pada semester II 2013 hingga awal Desember 2014, justru berbalik menjadi 65 persen end user dan 35 persen investor," ungkap Marketing Department Head Damai Putra Group, Hadi Putra, kepada Kompas.com, Minggu (14/12/2014).

Segara City di Segara Jaya Bekasi,yang dikembangkan Damai Putra Group, membuktikan pernyataan Hadi. Catatan penjualannya dikuasi end user. Dari total 70 unit yang terjual pada hari pertama peluncuran klaster Descade pada hari Minggu ini, seluruhnya dibeli konsumen untuk ditinggali.

Demikian halnya dengan proyek Damai Putra Group lainnya, yakni Harapan Mulya, dan Kota Harapan Indah, dibeli dan dihuni oleh pengguna akhir. Kalau pun ada investor yang membeli, kata Hadi, paling banter hanya membeli empat unit.

Menurut Hadi, fenomena anjloknya permintaan investor disebabkan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang memberlakukan loan to value (rasio pinjaman terhadap aset) dan kenaikan suku bunga.

"Kebijakan BI tersebut sangat efektif meredam aksi investor, terlebih aksi spekulan. Sehingga pertumbuhan harga properti yang sebelumnya "liar" tak terkendali, dapat tumbuh secara wajar," tutur Hadi.

Dia menambahkan, sekarang pertumbuhan harga hunian, tidak setinggi kurun tiga hingga empat tahun lalu. Saat itu, menurut Hadi, pertumbuhan properti bisa sampai 200 persen di kawasan-kawasan favorit, seperti BSD City, Alam Sutera, dan Gading Serpong. Dengan kata lain kenaikan harga lebih tinggi ketimbang suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR).

"Tak heran jika banyak investor yang bermain pada saat itu. Mereka tak cuma membeli secara tunai, melainkan juga menggunakan fasilitas KPR. Tapi kini, pertumbuhan harga mulai melambat, sementara suku bunga tinggi. Dengan potensi pertumbuhan hanya 15 persen pada tahun depan, dapat dipastikan jumlah investor akan semakin berkurang. Pasalnya, suku bunga KPR nyaris sama dengan kenaikan harga," pungkas Hadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.