Harga Lahan Kawasan Industri Tembus Rp 1,9 Juta Per Meter Persegi

Kompas.com - 27/11/2014, 08:06 WIB
Kawasan Industri Ngoro, Mojokerto, diisi perusahaan manufaktur, consummer goods, dan industri ringan lainnya. Hilda B A/KOMPAS.comKawasan Industri Ngoro, Mojokerto, diisi perusahaan manufaktur, consummer goods, dan industri ringan lainnya.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga lahan 11 kawasan industri utama di Jadebotabek pada 2014 melonjak signifikan dengan pencapaian rerata Rp 1,9 juta per meter persegi. Lonjakan harga ini terjadi karena pasokan terbatas sementara kebutuhan tinggi.

Hingga semester I 2014, dari total transaksi lahan seluas 750 hektar, perusahaan otomotif seperti Toyota, Suzuki, Astra Honda Motor, masih mendominasi dalam bentuk ekspansi pabrik baru.

Jadi, meski jam properti Indonesia melambat, namun peluang masih sangat menjanjikan. Termasuk untuk subsektor kawasan industri.

Pasca Pemilihan Umum 2014 yang menghasilkan kembalinya kepercayaan pasar, menstimulasi semakin menguatnya permintaan kawasan industri. Permintaan berasal dari perusahaan-perusahaan yang melakukan ekspansi bisnis baik dari penanam modal dalam negeri (PMDN) maupun penanam modal asing (PMA).

Selain itu, faktor yang mendorong besarnya peluang tersebut adalah stabilitas politik, besarnya pasar domestik, digenjotnya pembangunan infrastruktur, upah buruh yang kompetitif dan harga lahan yang masih lebih murah ketimbang di negara-negara lainnya.

Country Head JLL Indonesia, Todd Lauchlan, mengutarakan pendapatnya terkait prospek bisnis properti subsektor kawasan industri dalam seminar "Indonesia Real Estate 2014", di Jakarta, Rabu (26/11/2014).

"Peluang di subsektor kawasan industri masih sangat besar. Harga terus meningkat dan semakin menguat, daerah baru banyak dikembangkan sebagai respon atas banyaknya perusahaan asing yang melakukan ekspansi di Indonesia," tutur Todd.

Todd kemudian mengutip hasil riset McKinesy Global Institute "The archipelago economy; Unleashing Indonesia's potential", September 2012, bahwa Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terbesar ke-16 dunia yang memiliki 45 juta populasi kelas menengah dengan daya beli tinggi, dan 55 juta pekerja berketerampilan.

"Sementara pada 2030 nanti Indonesia bakal menjadi kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia dengan 135 juta kelas menengah berdaya beli tinggi dan 113 juta pekerja berketerampilan. It's a big opportunity," ujar Todd.


Surabaya

Selain Jadebotabek, kawasan industri lainnya yang pantas dilirik adalah Surabaya. Kawasan ini, menurut Todd, menawarkan biaya lahan yang lebih rendah ketimbang Jadebotabek yakni berkisar antara Rp 750.000 hingga Rp 2,2 juta per meter persegi.

"Selain itu, infrastruktur yang baik terhubung dengan hub transportasi. Surabaya mendapat manfaat dari padat dan mahalnya kawasan industri Jadebotabek, dan upah buruh yang masih kompetitif," kata Todd.

Dia melanjutkan, dalam tiga tahun terakhir lahan kawasan industri yang tersedia di Surabaya dan sekitarnya saat ini hanya 223 hektar. Sementara tingkat serapan 10 sampai 17 hektar pertahun. Tahun ini, tingkat hunian kawasan industri Surabaya tercatat 89 persen yang didominasi perusahaan kebutuhan konsumsi, elektronik, rokok, dan baja.

"Ke depan, sama seperti Jadebotabek, akan ada banyak kawasan industri baru yang dikembangkan. Harga pun bakal meningkat signifikan mengingat permintaan juga kuat," tandas Todd.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X