Kompas.com - 28/06/2014, 19:00 WIB
Penulis Tabita Diela
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketersediaan infrastruktur, kelancaran informasi, akses perbankan, dan pendidikan belum merata di seluruh Indonesia. Tidak mengherankan, baru segelintir kota-kota di negara ini yang bisa meningkatkan potensi ekonomi kreatifnya.

Padahal, menurut pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, jumlah tersebut bisa ditambah jika kota-kota saling bekerja sama dan dipimpin oleh wali kota kreatif.

Kepada Kompas.com, Sabtu (28/6/2014), Yayat mengomentari gagasan mengenai "kota kreatif" di Indonesia. Menurut dia, gagasan tersebut menarik lantaran Indonesia punya sumber daya manusia yang kreatif. Contoh sederhananya, setiap daerah punya jajanan, makanan, dan cendera mata yang khas. Jika dikemas dengan tepat, hal ini bisa menjadi daya saing Indonesia.

"Kita bisa melihat kalau melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain menunjukkan betapa kreatifnya penduduk kota tersebut. Ada juga kita pergi ke kota lain dan tidak bisa menemukan karya di daerah tersebut. Ini menjadi persoalan sekaligus tantangan. Memang, ada satu kecenderungan, kota-kota kreatif itu kota yang sudah berkembang," ujar Yayat.

Kecenderungan ini, menurut Yayat, sebenarnya bisa dijembatani lewat kerja sama antarkota. Kota yang sudah berkembang bisa membantu kota lainnya. Kota-kota kreatif yang kaya akan kerajinan tangan dan usaha kecil menengah tentu membutuhkan bahan dasar. Nah, bahan-bahan ini bisa ditemukan di daerah yang minim inovasi dan kreativitas. Dalam bentuk berbeda, bisa juga satu daerah yang lebih maju membimbing daerah lain lewat berbagai pelatihan dan pendampingan.  

Yayat menambahkan, kerja sama pun tidak harus antar-pemangku kepentingan. Pemerintah, khususnya para wali kota, bisa berperan sebagai medium. Namun, kerja sama untuk membangun usaha ekonomi kreatif harus menyasar langsung kepada para pelaku usaha. Oleh karena itu, pemerintah satu daerah harus siap mengajak unsur masyarakat yang ingin dibina agar mampu mengembangkan usahanya. Langkah selanjutnya, tinggal mencari pelaku pasar yang bisa bekerja sama dengan pemerintah.

"Sudah saatnya punya wali kota kreatif. Tanpa pemimpin kreatif, daerah tidak bisa berkembang. Kota kreatif yang tidak dipimpin oleh pemimpin kreatif pun bisa ditinggal rakyatnya. Pada saat negara lemah, pasar masuk, kota bisa 'diobok-obok'. Karena itu, perlu intervensi. Pemerintah pusat seharusnya bisa melihat itu," imbuh Yayat.

Yayat kemudian memberikan contoh. Dia sendiri pernah membantu usaha kreatif di Jambi. Di sana terdapat potensi usaha batik dan pariwisata khas Jambi. Sayangnya, tanpa bimbingan orang yang sudah berpengalaman, sumber daya di sana bisa sia-sia.

"Kami membantu tata lingkungannya, kami bekerja sama dengan Yogyakarta. Intinya adalah bagaimana orang di Jawa masuk membantu batik jambi untuk disesuaikan dengan pasar. Caranya waktu itu, mencari mentor batik yogyakarta untuk melatih di Jambi karena perajin lokal saat itu belum punya banyak tenaga," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.