Pengembang Jepang Incar Mega Kuningan

Kompas.com - 23/05/2014, 17:00 WIB
The Hundred, Mega Kuningan. www.woodsbagot.comThe Hundred, Mega Kuningan.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang asal Jepang, Tokyu Land, berencana menambah rekam jejak mereka di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Menurut Head of Marketing Tokyu Land, Ardian J Fatkoer, Mega Kuningan telah dibidik sejak lama, karena kawasan ini merupakan jantung Segitiga Emas Jakarta. Selain itu, konsentrasi  perusahaan juga mengarah pada pembangunan properti komersial dan high rise residential.

"Mega Kuningan sangat sesuai dengan visi dan konsep pengembangan yang diadopsi Tokyu Land. Selama ini, kami telah mengembangkan properti komersial kelas atas di kawasan Setiabudi, Setiabudi SkyGarden, berkolaborasi dengan PT Jakarta Setiabudi International," imbuh Ardian.

Mega Kuningan tampaknya menjadi creme de la creme di kawasan Segitiga Emas Jakarta yang banyak diincar pengembang kakap nasional dan juga mancanegara.

Lahan kosong untuk pengembangan properti komersial masih tersedia, harganya pun relatif lebih kompetitif ketimbang harga lahan di kawasan Segitiga Emas Jakarta lainnya macam koridor Sudirman, atau Thamrin.

Harga lahan teraktual masih berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per meter persegi, sementara di koridor Sudirman, dan Thamrin sudah menembus kisaran Rp 100 juta per meter persegi.

Tak pelak kawasan bisnis dan diplomatik terpadu tersebut saat ini menjadi primadona para pengembang dan terus bertranformasi menjadi nadi pertumbuhan central business district (CBD) Jakarta.

Tercatat beberapa pengembang besar memiliki portofolio properti komersial di sini. Mereka, antara lain, adalah, Dua Mutiara Group dengan kompleks properti multifungsi hotel dan apartemen The Ritz Carlton, Gapura Prima Group dengan Bellezza Mansion, Megapolitan Development Group dengan The Bellezza Mansion, dan PT Megakuningan International Property menggarap The Hundred.

Jika rencana Tokyu Land direalisasikan, maka lahan kosong yang masih tersisa (tidak termasuk pengembangan baru) tinggal beberapa blok saja. Termasuk milik PT Jakarta Setiabudi International Tbk., (JSI) seluas 3,6 hektar.

Kawasan diplomatik dan bisnis terpadu

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X