Kompas.com - 24/04/2014, 14:31 WIB
Pertumbuhan properti harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur. www.shutterstock.comPertumbuhan properti harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur.
|
EditorHilda B Alexander

Jadebotabek pun mulai memperlihatkan gejala serupa. Meski tidak sepenuhnya kosong, namun tidak semuanya juga terhuni. Apartment Manager PT Prima Buana Internusa, Edwin O Gobel, memastikan, komposisi tingkat hunian rerata apartemen yang dikelolanya adalah seimbang alias fifty-fifty, antara penyewa dan pemilik.

Bahkan, di beberapa gedung apartemen seperti di Kemayoran, Kelapa Gading, dan kawasan Thamrin justru 60 persen penyewa, dan 40 persen pemilik. Sementara di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, ada apartemen strata yang dihuni oleh penyewa sebanyak 40 persen, pemilik 39 persen, dan dibiarkan kosong sebanyak 21 persen dari total sebanyak 780 unit.

Apakah kondisi demikian akan membuat harga apartemen tertekan bila yang menguasai pasar adalah investor, mempertimbangkan tingkat penjualan tidak selamanya linear dengan tingkat hunian? Pertanyaan berikutnya, bila apartemen-apartemen tersebut kosong tak berpenghuni, bagaimana dampaknya terhadap pasar properti? Bukankah ini sinyalemen yang harus diwaspadai?

Terhadap fenomena tersebut, Anton berpendapat, harga apartemen tidak akan tertekan selama pasar seken atau pasar sewa sama aktifnya dengan pasar primer. Dia mengakui, untuk saat ini pasar seken apartemen memang tidak seaktif pasar seken perumahan. "Namun, untuk mengetahui dengan pasti apakah kondisi pasar apartemen red alert atau tidak adalah dengan membuat studi mengenai repeat sales index," jelas Anton.

"Repeat sales index"

Repeat sales index merupakan sebuah metode untuk menghitung perubahan harga penjualan properti dari waktu ke waktu. Analis pasar properti menggunakan metode ini untuk memperkirakan perubahan harga rumah selama periode bulan atau tahun. 

Keuntungan metode penjualan berulang ini adalah dapat mengetahui perubahan harga berdasarkan penjualan properti yang sama, sehingga masalah dapat dihindari dalam  menjelaskan perbedaan harga properti dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Metode penjualan berulang ini juga menawarkan alternatif yang lebih akurat untuk analisis regresi atau menghitung harga rata-rata penjualan berdasarkan wilayah geografis. Kelemahannya, metode ini tidak memperhitungkan properti yang terjual hanya sekali selama periode waktu yang dilaporkan.

Namun demikian, hasil dari metode ini mengindikasikan aktivitas pasar properti. Jika hasilnya adalah peningkatan harga, maka itu berarti menunjukkan penguatan permintaan. Demikian sebaliknya, jika terjadi penurunan harga, maka terjadi juga penurunan permintaan.

"Selama ini belum ada yang melakukan repeat sales index. Karena kami dan juga pengembang tidak memiliki kepentingan untuk itu," ujar Anton.

Padahal, studi ini diperlukan untuk membantu pengembang dalam melakukan ekspansi dan menghindari kesalahan investasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.