Megaproyek Jembatan Selat Sunda Masih Kontroversial

Kompas.com - 05/09/2013, 15:30 WIB
Antrean truk di jalan lintas pantai timur Sumatera yang menuju ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Sabtu (12/1/2013). Kompas/Yulvianus HarjonoAntrean truk di jalan lintas pantai timur Sumatera yang menuju ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Sabtu (12/1/2013).
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Polemik tersebut terungkap saat pakar konstruksi Wiratman Wangsadinata mempresentasikan sejarah panjang jembatan ultra panjang 25 kilometer dengan bentang 2.200 meter itu pada Simposium Nasional Arsitektur Jembatan Selat Sunda di Jakarta, Kamis (5/9/2013). Dia mengatakan, polemik tersebut mulai timbul pada Maret 2012 dan tak juga berujung sampai sekarang.

"Polemik terjadi saat pihak asing secara agresif ingin menguasai dan mengambil kendali sepenuhnya atas pembangunan Jembatan Selat Sunda ini. Agresifitas asing termasuk dalam hal studi kelayakan, perancangan baik itu pra desain dan desain, hingga pelaksanaan pembangunannya," kata Wiratman.

Pendiri dan Direktur Utama Wiratman & Associate tersebut menegaskan, pihak asing harus berada di bawah kendali kepemimpinan Nasional. Ia menggaris bawahi hal ini sebagai sesuatu yang penting diperhatikan.

"Kita harus merealisasikan visi bangsa ke depan. Kita yang memimpin, mengendalikan dan mengarahkan studi kelayakan dan pelaksanaan pembangunan," ujarnya.

Selain masalah teknis studi kelayakan dan perancangan, masalah berikutnya adalah pembiayaan, baik biaya pembangunan maupun studi kelayakan. Menurut Wiratman, khusus biaya studi kelayakan sebesar Rp 1 triliun, bisa dialokasikan dari APBN. Oleh Karena itu, pemerintah harus masuk dalam konsorsium PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) selaku pemrakarsa proyek. GBLS merupakan konsorsium yang terdiri atas Pemerintah Daerah Banten-Lampung dan Artha Graha Network melalui PT Bangungraha Sejahtera Mulia serta Wiratman & Associate.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, Wakil Menteri Pekerjaan Umum RI, Hermanto Dardak pernah mengungkapkan, jembatan seperti JSS ada di China, di Jepang, serta New York dan Italia. Bahkan, jembatan di Italia sudah 20 tahun ini masih berupa rencana dan belum terbangun. Tak syak, pembangunan JSS membutuhkan rencana sangat matang dengan anggaran tidak sedikit untuk benar-benar diperhitungkan.

Boleh jadi, studi tentang rencana Jembatan Selat Sunda pada simposium nanti bisa menjadi pengetahuan bagi seluruh arsitek serta insinyur tak hanya di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia. Karena, kehadiran proyek ini memiliki keunikan dan ciri khasnya sendiri, yaitu gunung Anak Krakatau yang tersohor di dunia itu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X