Bangun Properti, Pengembang Andalkan Dana Internal - Kompas.com

Bangun Properti, Pengembang Andalkan Dana Internal

Kompas.com - 14/02/2018, 18:30 WIB
Ilustrasi rumahApartementtherapy Ilustrasi rumah

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang masih menjadikan dana internal sebagai sumber utama pembiayaan dalam membangun properti, baik residensial, maupun komersial.

Dana internal perusahaan ini sebagian besar berasal dari laba ditahan, dan juga modal disetor dengan komposisi bervariasi.

Wakil Direktur Utama PT Metropolitan Kentjana Tbk Jeffri S Tanudjaja dan Komisaris Mahakarya Group Azhary Husni mengungkapkan hal tersebut kepada Kompas.com, Rabu (14/2/2018).

Dua perusahaan ini mewakili pengembang menengah atas, dan menengah bawah dengan konsentrasi masing-masing pada properti komersial dan perumahan tapak. 

Baca juga : Tahun Ini, Pondok Indah Group Lansir PIM 3 dan Perkantoran Sewa

Menurut Jeffri, saat ini perseroan tengah mempersiapkan pembangunan pusat belanja Pondok Indah Mall (PIM) 3 dan perkantoran Pondok Indah Office Tower. 

Kedua proyek besar ini diprediksi menelan dana investasi senilai Rp 2 triliun.

"Kami menggunakan dana internal perseroan seluruhnya. Dana internal ini berasal dari laba ditahan dan arus kas (cash flow)," terang Jeffri.

Senada dengan Jeffri, Azhary membuka rahasia perusahaannya untuk perkara pembiayaan pembangunan perumahan tapak.

Baca juga : Mahakarya Group, Pengembang Spesialis Rumah Tanpa DP

Mahakarya Group juga mengalokasikan dana internal untuk membiayai pembangunan perumahan. 

Dana ini berasal dari laba ditahan sebesar 40 persen dan modal investor yang disetor sebesar 60 persen.

"Dengan komposisi seperti ini, kami yakin pembiayaan perumahan akan aman hingga selesai," kata Azhary.

Pengakuan kedua pengembang ini sejalan dengan hasil survei yang dirilis Bank Indonesia (BI) yang melaporkan bahwa sebagian besar pengembang atau 56,18 persen menyatakan dana internal masih menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti.

Berdasarkan komposisi dana internal, sumber pembiayaan pembangunan didominasi oleh laba ditahan sebesar 23,4 persen, modal disetor 27,22 persen, lainnya 3,89 persen dan joint venture 2,03 persen.


Komentar
Close Ads X