Buruh Lajang di Semarang Tak Tertarik "Rusunawa Jokowi" - Kompas.com

Buruh Lajang di Semarang Tak Tertarik "Rusunawa Jokowi"

Kontributor Ungaran, Syahrul Munir
Kompas.com - 12/10/2017, 09:44 WIB
 Rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Ungaran blok lajang sepi peminat. Hunian vertikal yang berlokasi di Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang ini dibangun oleh Pemerintah untuk menjawab kebutuhan buruh atau pekerja di kawasan tersebut yang mencapai 2.700 pekerja.kompas.com/ syahrul munir Rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Ungaran blok lajang sepi peminat. Hunian vertikal yang berlokasi di Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang ini dibangun oleh Pemerintah untuk menjawab kebutuhan buruh atau pekerja di kawasan tersebut yang mencapai 2.700 pekerja.

UNGARAN, KompasProperti - Kalangan pekerja berstatus lajang tidak berminat tinggal di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) twin tower Ungaran.

Padahal rusunawa yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada akhir April 2015 lalu ini memiliki fasilitas yang lengkap dengan harga sewa relatif murah.

Petugas administrasi Rusunawa Ungaran, Rizki Nuurohmah (22) mengatakan, saat ini dari 104 unit blok lajang baru terisi 22 unit atau sekitar 20 persen. Blok lajang tipe 24 ini sementara diperuntukkan bagi pekerja perempuan.

"Alasannya kenapa saya tidak tahu. Mungkin biar lebih tertib pengawasannya ya?," kata Rizki, Kamis (12/10/2017).

Berbeda halnya dengan blok keluarga yang terdiri dari 66 unit, semuanya telah terisi. Bahkan blok keluarga dengan tipe 36 ini sudah banyak yang inden.

"Mereka kesini dan mendaftar. Jadi kalau ada penghuni yang habis kontraknya, mereka kami telpon," tambah Rizki.

Rizki menduga, keengganan buruh berstatus lajang menempati rusunawa karena belum adanya angkutan feeder atau pengumpan ke jalan raya. Mereka pun kesulitan mengakses transportasi menuju tempat kerja.

"Rata-rata yang menempati unit di sini pada punya motor. Kalau tidak punya motor, mereka mikirnya lebih baik kos yang dekat pabrik saja yang bisa jalan kaki," jelasnya.

 Rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Ungaran blok lajang sepi peminat. Hunian vertikal yang berlokasi di Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang ini dibangun oleh Pemerintah untuk menjawab kebutuhan buruh atau pekerja di kawasan tersebut yang mencapai 2.700 pekerja.kompas.com/ syahrul munir Rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Ungaran blok lajang sepi peminat. Hunian vertikal yang berlokasi di Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang ini dibangun oleh Pemerintah untuk menjawab kebutuhan buruh atau pekerja di kawasan tersebut yang mencapai 2.700 pekerja.
Wasil (26) salah penghuni rusunawa blok lajang mengaku baru tiga bulan tinggal di hunian yang kerap dijuluki "Rusunawa Jokowi" ini.

Buruh pabrik garmen ini menenempati salah unit di lantai dua. Ia mengaku sangat nyaman tinggal di sini.

"Nyaman, air mengalir dengan lancar, meja kursi dan tempat tidur semua tersedia. Cuma ya sepi, mungkin promosinya kurang," kata Wasil.

Seorang pekerja di pabrik garmen Gedanganak, Nanda (29) mengaku enggan tinggal di Rusunawa Ungaran kendati fasilitasnya cukup mewah untuk kelas buruh seperti dirinya.

Namun yang menjadi kendala, ia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk transportasi menuju tempat kerjanya.

"Kalau tiap hari ngojek, habis gaji saya mas. Kecuali kalau ada jalur angkotnya, saya pasti mau," kata Nanda.

Peneliti Laboratorium Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengatakan, penyediaan akses yang lebih baik diperlukan agar penghuni rusunawa mudah menjangkau tempat kerja dan fasilitas lain dengan mudah dan murah.

"Rusunawa buruh harus menyediakan akses jalan dan sarana transportasi umum terjadwal, murah dan melewati tempat kerja, perbelanjaan dan pusat kota," kata Djoko.

Menurut Djoko, dengan adanya akses, para buruh tidak perlu lagi membawa kendaraan pribadi ketika hendak bekerja maupun ke tempat lainnya.

Jika para buruh memakai kendaraan pribadi, maka penghasilan utama akan berkurang secara drastis.

"Kalau pakai kendaraan pribadi, 30 persen biasanya untuk biaya operasional seperti bayar cicilan, beli bensin, hingga perbaikan rutin tiap bulan," kata dia.

Pembangunan "Rusunawa Jokowi" ini menelan biaya Rp 66,4 miliar yang diambil dari pos anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Rusunawa itu terdiri dari dua menara dengan ketinggian masing-masing lima lantai. Menara pertama terdiri dari 104 unit dengan tipe 24 untuk buruh lajang.

Adapun menara kedua terdiri dari 66 unit dengan tipe 36 untuk buruh yang sudah berkeluarga.

Hunian vertikal yang berlokasi di Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang ini dibangun oleh Pemerintah untuk menjawab kebutuhan buruh atau pekerja di kawasan tersebut yang mencapai 2.700 pekerja.


PenulisKontributor Ungaran, Syahrul Munir
EditorHilda B Alexander

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM