Basuki Ungkap Alasan Pemerintah Bangun Pusat Karantina di Pulau Galang

Kompas.com - 10/03/2020, 11:17 WIB
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono didampingi Dirjen Cipta Karya Danis H Sumadilaga dan Direktur Bina Penataan Bangunan Ditjen Cipta Karya Diana Kusumastuti, meninjau bakal fasilitas observasi dan isolasi penyakit menular di Eks Kamp Vietnam, Pulau Galang, Kepulauan Riau, Senin (9/3/2020). Kompas.com/Hilda B AlexanderMenteri PUPR Basuki Hadimuljono didampingi Dirjen Cipta Karya Danis H Sumadilaga dan Direktur Bina Penataan Bangunan Ditjen Cipta Karya Diana Kusumastuti, meninjau bakal fasilitas observasi dan isolasi penyakit menular di Eks Kamp Vietnam, Pulau Galang, Kepulauan Riau, Senin (9/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah memulai pembangunan pusat karantina atau fasilitas observasi dan isolasi penyakit infeksi menular di Eks Kamp Pengungsi Vietnam, Pulau Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Pusat karantina ini dibangun menyusul merebaknya virus corona penyebab penyakit Covid-19.

Mencakup dua bangunan dalam dua lantai yang terdiri dari ruang observasi sebanyak 230 kamar dengan daya tampung 8 hingga 10 orang pe kamar, dan ruang isolasi.

Ruang isolasi ini dibagi dua menjadi isolasi intensive care unit (ICU) sejumlah 20 kamar, dan non-ICU sebanyak 30 kamar. Kapasitas ruang isolasi ini per kamar hanya diisi satu pasien.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengungkapkan alasan pemerintah menjadikan Pulau Galang sebagai pusat karantina penyakit infeksi menular.

Baca juga: Basuki Optimistis Fasilitas Observasi dan Isolasi di Pulau Galang Rampung Satu Bulan

Eks dapur kamp pengungsi VietnamHilda B Alexander/Kompas.com Eks dapur kamp pengungsi Vietnam
Pertama, karena posisi dan letak Pulau Galang terhitung strategis, dapat diakses dengan mudah dengan kondisi alam dan cuaca yang relatif bersahabat.

Kedua, akses udara dan laut melalui penerbangan dan kepelabuhanan sudah terbangun dan beroperasi dengan baik. Terutama Pelabuhan Kapal Penumpang Batuampar dan Bandara Hang Nadim.

"Kita bisa mendarat kapan pun, 24 jam. Dari Bandara Hang Nadim ke lokasi ini cuma 1 jam. Selain itu, kawasan eks Kamp Pengungsi Vietnam ini juga jauh dari permukiman," tutur Basuki.

Berbeda dengan Pulau Sebaru di Kepulauan Seribu yang sedianya akan dijadikan lokasi pembangunan yang terlalu rentan terhadap perubahan cuaca.

Baca juga: Melihat dari Dekat Lokasi Pusat Karantina Penyakit Infeksi Menular di Pulau Galang

Menurut Basuki, jika terjadi ombak besar, kapal tidak bisa mendarat di Pulau Sebaru, air bersih pun tak bisa masuk.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X