Standar China Jadi Acuan Kereta Cepat, Pengamat: Bad News

Kompas.com - 01/10/2019, 22:15 WIB
Prototype Kereta Cepat Jakarta-Bandung Kompas.com / Hilda B AlexanderPrototype Kereta Cepat Jakarta-Bandung

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat sekaligus anggota Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang meragukan standardisasi China terkait kualitas, keselamatan (safety), dan layanan purna jual Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Kalau mengenai mereka telah membangun puluhan ribu kilometer rel untuk kereta cepat iya, kita angkat topi. Tapi, jika bicara kualitas, keamanan dan safety, saya kok masih sangsi. Karena banyak terjadi kecelakaan, seperti kereta cepat anjlok di China," tutur Deddy kepada Kompas.com, Selasa (1/10/2019).

Deddy memberi tanggapan terkait rencana PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dalam membangun dan mengoperasikan Kereta Cepat Jakarta- Bandung dengan mengacu pada standar China.

"Sekali-kali kita memperkenalkan standar China. Bahwa ternyata tidak hanya Amerika Serikat atau Eropa yang bisa kita jadikan acuan, China telah membuktikan kehebatannya, teknologi, operasional, dan layanan," kata Direktur Utama KCIC Chandra Dwiputra saat memberikan sambutan dalam Pemasangan Girder Pertama Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Senin (30/9/2019).

Baca juga: Girder Perdana Terpasang, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Operasi 2021

Selain itu, imbuh Chandra, putra-putri terbaik Indonesia yang lolos rekruitmen sebagai karyawan KCIC pun akan disekolahkan di China guna mempelajari standard operational procedure (SOP) kereta cepat.

"Ilmu yang mereka dapat seperti masalah ticketing, dan pelayanan akan diterapkan saat Kereta cepat jakarta-Bandung, beroperasi," cetus Chandra.

Rencana KCIC ini didukung penuh oleh Menteri BUMN Rini Soemarno. Dia mengatakan, China merupakan satu-satunya negara yang mampu membangun infrastruktur kereta cepat terpanjang di dunia.

Baca juga: Rini Puji Hasil Kerja Wika dan Kontraktor China

"China sekarang menjadi acuan. Mereka sanggup mengembangkan 28.000 kilometer kereta cepat," kata Rini.

Belum ada regulasi

Deddy mengomentari rencana KCIC dan dukungan Menteri Rini sebagai "berita buruk", atau bad news

"Saya harus mengatakan bahwa rencana ini bad news ya," tegas dia.

Deddy memberi alasan, Indonesia hingga saat ini belum memiliki regulasi mengenai kereta cepat. Regulasi yang ada hanya mengatur kereta konvensional dengan kecepatan maksimum 120 kilometer per jam.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X