Tantangan Strategis Kendaraan Listrik (II)

Kompas.com - 03/09/2019, 07:00 WIB
Test ride skuter listrik Gesits di Telkomsel IIMS 2019 Donny Dwisatryo PriyantoroTest ride skuter listrik Gesits di Telkomsel IIMS 2019

Tulisan ini merupakan bagian terakhir. Seri pertama dapat dibuka pada tautan berikut ini dengan judul "Tantangan Strategis Kendaraan Listrik (I)".

 

PENGALAMAN Pemerintah China memberikan contoh yang menarik dan kontras dengan pemerintah Taiwan. Sebelum tahun 1998, ada upaya untuk mempromosikan skuter listrik di China dan semua upaya tersebut kurang berhasil.

Baru setelah tahun 1998 ketika skuter listrik benar-benar lepas landas yang difasilitasi oleh praktik peraturan lokal dalam bentuk larangan skuter konvensional ditambah penegakkan standar yang sangat longgar untuk skuter listrik.

Banyak kota di China saat ini telah melarang dan atau membatasi sepeda motor konvensional dengan menggunakan berbagai cara. Misalnya penangguhan penerbitan lisensi (STNK) sepeda motor baru, membatasi jumlah STNK sepeda motor konvensiional.

Bahkan, beberapa kota melarang masuknya skuter konvensional di sejumlah ruas jalan besar di perkotaan. Larangan dan pembatasan itu menjadi pendorong utama untuk beralih ke skuter listrik.

Untuk diketahui, moda ini dikategorikan sebagai kendaraan non-motor. Sementara larangan dan pembatasan hanya berlaku untuk kendaraan bermotor.  Oleh karena itu, skuter listrik dibebaskan dari larangan dan pembatasan.

Berkat kebijakan tersebut, skuter listrik dapat mengisi kekosongan pasar yang diciptakan oleh larangan sepeda motor konvensional. Penjualan skuter listrik tahunan di China kemudian tumbuh secara eksponensial dari 56.000 pada 1998 menjadi lebih dari 21 juta pada 2008.

Hasil survei terbaru yang kami lakukan di Bandung menggambarkan cerita yang lebih kurang sama dengan contoh-contoh di atas.

Hasil survei sementara menjelaskan, dengan berbagai insentif yang membuat atribut skuter listrik menjadi sebanding dengan sepeda motor konvensional. Meski begitu, market share dari electrical vehicle (EV) diprediksi masih sulit mencapai seperempat dari total share dalam kurun waktu 40 tahun.

Akan tetapi, terdapat temuan menarik yang menunjukkan adanya potensi yang besar jika diberlakukan kebijakan disinsentif untuk sepeda motor konvensional (seperti yang dilakukan di China) sehingga dapat membalikkan keadaan dan membuat transformasi ke EV menjadi sukses.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X