Tantangan Strategis Kendaraan Listrik (I)

Kompas.com - 02/09/2019, 11:58 WIB
Mobil listrik mungil Renault Twizy KOMPAS.com/RulyMobil listrik mungil Renault Twizy

KENDARAAN listrik atau electrical vehicle (EV) sedang dipromosikan di banyak negara dunia sebagai inovasi moda transportasi pribadi, dan umum yang ramah lingkungan dan hemat energi.

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, akhirnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Pengembangan Kendaraan Listrik Berbasis Baterai ( KLBB) guna mendorong terciptanya industri kendaraan listrik di Indonesia.

Untuk memahami dan mengantisipasi dampak implementasi perpres ini, kiranya penting melihat contoh di negara-negara lain tentang kondisi yang harus dipenuhi untuk mengalihkan penggunaan kendaraan bermotor konvensional berbasis internal combustion engine (ICE) ke kendaraan listrik.

Dari pengalaman di negara-negara lain yang lebih dulu melakukan upaya itu, terdapat berbagai kendala dan tantangan utama.

Antara lain kondisi teknologi yang belum matang atau sempurna (immature technology) dan harga kendaraan listrik, terutama untuk pribadi, yang relatif tinggi sehingga berdampak menghambat penetrasi di pasar otomotif.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa calon pengguna tidak tertarik membeli KLBB tanpa didukung teknologi yang layak dan teruji, akses dan infrastruktur pengisian listrik yang baik, ketersediaan suku cadang, dan layanan perbaikan yang cukup memadai.

Sementara di sisi lain, industri otomotif yang ada akan ragu untuk berinvestasi dalam teknologi dan infrastruktur KLBB tanpa prospek pasar yang cukup besar. Hal ini menciptakan masalah yang dikenal sebagai chicken and egg problem.

Sementara itu kendaraan konvensional berbahan bakar fosil (ICE) yang sudah ada, memiliki keunggulan kuat dalam aspek operasionalitas dan tersedianya infrastruktur, di samping industri tersebut sudah memiliki skala produksi dan bisnis yang besar saat ini.

Posisi tersebut ditopang oleh kemungkinan perbaikan kualitas berdasarkan pengalaman lapangan, dan umpan balik dari konsumen,  riset dan pengembangan, dan lain sebagainya,  memungkinkan untuk industri otomotif meningkatkan kualitas teknologi kendaraan, kinerja bahan bakar yang berdampak pada penurunan biaya produksi dan harga jual kepada konsumen sehingga menjadi terjangkau.

Beberapa negara, dengan berbagai tingkat kemajuan ekonomi, seperti Eropa, Amerika Serikat, India, China, Korea, dan Taiwan, menggunakan pendekatan berbeda-beda untuk merangsang transisi ke KLBB yang berkelanjutan.

Bahkan, beberapa dari mereka menggunakan insentif ekonomi dalam berbagai bentuk, misalnya pemberian subsidi untuk konsumen, produsen, atau meningkatkan harga bahan bakar fosil, tergantung dari efektifitas yang diharapkan, serta risiko politik yang dihadapi pemerintah setempat, untuk mendorong konsumen beralih ke KLBB.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X