Tantangan Strategis Kendaraan Listrik (I)

Kompas.com - 02/09/2019, 11:58 WIB
Mobil listrik mungil Renault Twizy KOMPAS.com/RulyMobil listrik mungil Renault Twizy

Namun, program subsidi tersebut tidak selalu berhasil atau tidak dapat bertahan cukup lama untuk menciptakan transformasi yang berkelanjutan (self-sustaining).

Dari berbagai kasus yang ada, kita dapat melihat beberapa dalam konteks negara-negara di Asia. Di banyak negara Asia, sepeda motor adalah moda transportasi populer yang menjadikan Asia sebagai wilayah dengan populasi sepeda motor terbesar di dunia atau hampir 80 persen penjualan sepeda motor dunia terjadi di Asia.

Oleh karena itu, lebih tepat jika kita memulai dengan fokus pada transisi dari sepeda motor konvensional berbahan bensin ke sepeda motor listrik. Beberapa negara kurang berhasil dan beberapa cukup berhasil dalam mendukung peralihan ke skuter listrik.

Penting juga untuk melihat pendekatan kebijakan yang negara lain lakukan sebagai pembelajaran bagi Indonesia. Namun, dinamika dan eforia tentang kendaraan listrik sebagai bagian dari tesla effect, tidak menutup kemungkinan bahwa pasar otomotif di Asia yang sangat besar juga akan mengikuti tren dan dinamika dunia untuk mengadopsi kendaraan listrik dalam 5-10 tahun ke depan.

Taiwan, salah satu pasar sepeda motor tertinggi, memiliki 15 juta sepeda motor pada 2012 dengan jumlah penduduk dewasa 24 juta jiwa. Jumlah ini merupakan 67 persen market share  kendaraan bermotor pada 2007 yang tumbuh 32,5 persen dalam 10 tahun terakhir (2002 ke 2012).

Dengan tujuan mengurangi polusi udara, pada tahun 1990-an, Administrasi Perlindungan Lingkungan Taiwan (TEPA), memulai program untuk mendukung implementasi pemanfaatan skuter listrik.

Mereka menghabiskan sekitar 10 juta dollar AS selama periode 6 tahun (1998-2003) untuk menyubsidi skuter listrik dalam berbagai bentuk seperti pengurangan pajak untuk produsen, subsidi untuk riset dan pengembangan, kegiatan promosi, pengadaan fasilitas charging points, dan lain-lain.

Pembelian setiap skuter listrik disubsidi dengan nilai rata-rata 800 dollar AS per kendaraan. Dengan semua insentif tersebut, harga skuter listrik dapat menjadi kompetitif dengan skuter konvensional.

Akan tetapi, kebijakan tersebut kurang berhasil untuk memacu permintaan skuter listrik yang berkelanjutan, sehingga subsidi dihentikan pada tahun 2003.

Ada tiga poin penting yang patut dijadikan pembelajaran dari kasus Taiwan. Pertama, glitches yang muncul pada teknologi baru, ketidaknyamanan yang muncul karena pemanfaatan teknologi yang baru, serta tidak adanya pembatasan permintaan untuk skuter konvensional.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X