Ini Penyebab Turunnya Kejayaan ITC (I)

Kompas.com - 03/07/2019, 21:08 WIB
Ilustrasi mal ShutterstockIlustrasi mal

Selain itu, menurut Stefanus, lesunya bisnis ritel trade center ini adalah karena kurangnya inovasi. Padahal hal ini adalah salah satu syarat agar bisa bertahan di industri ritel.

Dengan kondisi saat ini, para peritel harus menyatukan visi. Tak hanya para pemilik kios, pengelola juga harus ambil bagian.

Baca juga: Ini Penyebab Turunnya Kejayaan ITC (III)

Hal inilah yang menjadi sorotan CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono. Menurut Hendra, Sinarmas Land selaku pengembang, pengelola, dan juga pemilik sebagian kios di ITC-ITC, harus melakukan pendekatan ke para pemilik kios.

"Dengan lokasi-lokasinya yang sebagian strategis, harusnya mereka mampu meng-upgrade konsep, gedung secara fisik, dan manajemennya," kata Hendra.

Sinarmas Land, yang menurut Hendra, masih memegang kios atau pun ruangan besar yang tidak dijual, dan hanya disewakan, bisa menempuh cara buy back atau co-develop

Semacam pengembangan en bloc seperti di Singapura untuk apartemen-apartemen tua di lokasi strategis.

Tidak mau berubah

Jika opsi buy back atau co develop merupakan pilihan terakhir, maka pengembang dan pengelola harus kreatif dan mampu menciptakan event-event meriah yang mampu menarik minat pengunjung.

"ITC kan tempat jualan barang-barang fast moving low cost fashion dan low cost handphone. Jadi para pedagang mengharapkan fast moving sales juga. Mereka mengharapkan high volume karena marjinnya tipis," tutur Hendra. 

Selama ini, penyebab trade center atau pun lease mall yang ditinggalkan oleh para pelanggan karena mereka tidak mau berubah. Bahkan pada era digital seperti ini, peritel juga hrus mengikuti perkembangan zaman.

Salah satunya adalah dengan menerapkan omnichannel sehingga pelanggan dapat menggunakan lebih dari satu channel penjualan seperti toko fisik, e-commerce, serta jual-beli via mobile.

"Harus kompak, sama-sama mau majuin, tukar pikiran sama-sama gimana supaya makin beken. Kalau bisa bermitra dengan komunitas, jadi komunitas itu juga bisa datang ke sana, sehingga bisa langsung ke customer-nya," tambah Stefanus.

Sinarmas Land sendiri selaku pengembang dan pengelola belum memberikan konfirmasi terkait fenomena sepinya ITC-ITC yang mereka kembangkan.

Ketika dihubungi Kompas.com, Managing Director Sinarmas Land Dhony Rahajoe hanya memberikan jawaban, "Maaf keburu rapat lagi. Nanti saya call," .


Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X