Begini Cara Belanda Atasi Banjir

Kompas.com - 29/04/2019, 12:15 WIB
-Joris van Gennip/The GroundTruth Project -

KOMPAS.com - Belanda berhasil membendung laut untuk mengatasi bencana banjir. Meski begitu, negara ini pun tak luput dari potensi bahaya serupa di beberapa daerah, seperti di Njmegen.

Arsitek lanskap, Schouten mengatakan, 20 tahun lalu pertahanan tanggul di daerah ini mulai retak.

"Pada 1993 dan 1995 tanggul hampir gagal sehingga 20.000 penduduk dievakuasi," ujar Schouten.

Dia menuturkan, hal tersebut merupakan panggilan peringatan. Setelah itu, peringatan kerusakan tanggul kembali terulang pada tahun 2000, ketika perubahan iklim diperkirakan akan berdampak pada kenaikan muka air di sekitar tanggul-tanggul di negara itu.

Baca juga: Nyamannya Tempat Penampungan Korban Banjir di Jepang

Hal ini kemudian membuat Belanda melakukan perubahan besar-besaran. Alih-alih membangun tanggul yang lebih tinggi untuk melindungi diri dari air, pemerintah setempat memutuskan untuk mengelola banjir dengan menyediakan area khusus sebagai tempat luapan.

Area penampung banjir di NijmegenJoris van Gennip/The GroundTruth Project Area penampung banjir di Nijmegen
Pada dasarnya, pemerintah Belanda mengakui bahwa mereka tidak dapat menghindari banjir yang berasal dari luapan sungai maupun laut sama sekali.

Kebijakan ini juga berarti membiarkan banjir terjadi di suatu daerah untuk mencegah luapan air terjadi di daerah lain yang lebih padat.

Proyek penyediaan lahan khusus untuk aliran banjir ini disebut Room for the River.

Namun rencana ini menemui kendala. Daerah yang sedianya akan digunakan untuk menampung banjir telah dipadati puluhan keluarga.

Baca juga: Meski Dihadang Banjir, Jembatan di Belanda Masih Bisa Dilewati

Schouten mengatakan, butuh waktu bertahun-tahun agar warga yang tinggal di area tersebut bersedia dipindahkan.

Area lainnya

Nijmegen bukan satu-satunya tempat implementasi untuk proyek Room for the River. Ada tempat lain yang disebut Biesbosch di mana dua sungai besar, Wall dan Meuse bertemu.

Seperti di Nijmegen, pemerintah Belanda memutuskan untuk mengubah daerah tersebut menjadi area luapan banjir untuk mencegah banjir terjadi di tempat-tempat yang lebih padat.

Proyek tersebut diberi nama Noorwaard Depoldering. Proyek ini menyediakan dataran rendah di belakang tanggul sebagai area penampung banjir.

-Joris van Gennip/The GroundTruth Project -
"Itu tidak mencegah banjir, tetapi mencegah tanggul bocor," kata arsitek lanskap yang bekerja untuk proyek ini, Robbert de Koning.

Noorward merupakan sebuah desa yang ditinggali saat proyek ini dimulai. Banyak penduduk yang menolak untuk direlokasi.

Namun pemerintah Belanda saat itu menawarkan usulan, jika rumah yang ditempati berada di satu meter di atas ketinggian air baru, maka mereka bisa tinggal. Sebaliknya, jika tidak, maka penduduk harus bersedia pindah.

Baca juga: Guru Besar IPB: Embung Panjang Solusi Atasi Banjir

Selain menyediakan area khusus untuk menampung aliran air, proyek ini juga bermanfaat dalam merestorasi anak sungai sepanjang 40 kilometer.

Daerah sepanjang anak sungai tersebut kini menjadi lahan basah yang populer di kalangan pencinta burung dan pengendara motor.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X