Rumah Rp 908,74 Miliar Terancam Dirobohkan

Kompas.com - 10/04/2019, 06:00 WIB
Diter diberi waktu selama 18 bulan untuk merobohkan bangunanPhilippe Petit/Paris Match/Getty Images Diter diberi waktu selama 18 bulan untuk merobohkan bangunan

KOMPAS.com — Seorang pengembang, Patrick Diter, membeli lahan di pedesaan Perancis tepatnya di kota Grasse. Di tempat ini, ia membangun hunian mewah bergaya Renaissance.

Namun, rumah seharga 57 juta euro atau sekitar Rp 908,74 miliar itu harus dibongkar. Ini karena pembangunan rumah mewah tersebut dianggap ilegal.

Baca juga: Istana Bersejarah Iran Direkonstruksi

Diter diberi waktu selama 18 bulan untuk merobohkan bangunan. Dia pun juga harus membayar denda sebesar 200.000 euro ekuivalen Rp 3,18 miliar.

"Patrick Diter dituduh melakukan pembangunan tanpa izin," kata jaksa agung pengadilan di Aix-en-Provence, Pierre-Jean Gaury, seperti dikutip dari CNN, Selasa (9/4/2019).

Selain itu Diter juga harus membayar denda harian sebesar 500 euro atau sekitar Rp 7,97 juta.

Tak hanya itu, perusahaan kontraktor yang juga terlibat dalam pembangunan juga menerima denda sebesar 50.000 euro atau Rp 796,9 juta.

Interior rumahPhilippe Petit/Paris Match via Getty Images Interior rumah
Sebelumnya, sebuah rumah sudah dibangun di lahan tersebut. Namun, Diter membangun kompleks dengan beberapa bangunan di bekas lahan tersebut.

Bahkan, dia menambahkan kolam renang dan air mancur.

Gaury juga menekankan, Diter hanya membeli lahan secara legal. Masalah muncul ketika pembangunan rumah mewah itu menyalahi aturan karena lahan tersebut berada di area yang dilindungi.

Baca juga: Sejarah Istana Kensington, Hunian Pangeran Harry-Meghan Markle

Selain membangun tanpa izin, Diter juga sering menyelenggarakan pesta dengan suara keras.

"Tetangga sering mengeluh selama bertahun-tahun," kata Gaury.

Rumah mewah ini dibangun di area seluas 6,8 hektar. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan dengan 18 suites, kolam renang, taman khusus, hingga landasan helikopter.

"Dia membuat semua ini tampak mewah," ujar Gaury.

Sebelumnya, Diter mengatakan bahwa ia dan istrinya mencari properti di Tuscany, Italia. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk membangun rumah di Perancis.

Hingga saat ini, Diter memiliki waktu hingga 30 Maret untuk mengajukan banding atas putusan tersebut.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X