Kapel Mungil dari Tumpukan 144 Potong Kayu

Kompas.com - 04/03/2019, 22:00 WIB
Wooden Chapel Eckhart MatthäusWooden Chapel

KOMPAS.com - Wooden Chapel atau kapel kayu merupakan satu dari tujuh tempat peristirahatan baru yang didirikan oleh Yayasan Siegfried and Elfriede Denzel.

Yayasan ini menugaskan tujuh arsitek, enam orang dari Jerman dan satu orang dari Inggris untuk merancang sebuah tempat peristirahatan unik.

Salah satu tempat peristirahatan karya Pawson menarik perhatian lantaran dibangun dengan material dan cara yang unik.

Baca juga: Kanopi Jembatan Indah Ini dari Kayu Bekas

"Klien ingin menyediakan tempat perlindungan atau ruang kontemplasi," kata arsitek yang merancang kapel ini, John Pawson.

Dia menumpuk 144 batang pohon untuk membuat ruang istirahat di jalur sepeda di Jerman barat daya. Menurut Pawson, penggunaan batang kayu pada karyanya untuk menegaskan tema alam yang diusung, apalagi letak peristirahatan tersebut berada di tengah hutan.

Pawson menumpuk 144 batang pohon untuk membuat ruang istirahat di jalur sepeda di Jerman barat daya. Eckhart Matthäus Pawson menumpuk 144 batang pohon untuk membuat ruang istirahat di jalur sepeda di Jerman barat daya.
Gelondong kayu yang digunakan berasal dari pohon cemara. Pohon tersebut dipotong hingga menjadi balok bujursangkar kemudian ditumpuk sehngga terlihat seperti tumpukan balok dari luar.

Pada potongan-potongan tersebut, Pawson menyisakan salah satu sisi terlihat asli sesuai dengan kondisi kayu.

"Itu hanya batang pohon cemara yang ditumpuk satu sama lain," ujar Pawson.

Wood Chapel dirancang dengan hanya satu buah ruangan, di mana pesepeda yang melewati rute ini dapat menggunakannya sebagai tempat istirahat.

Lantai di ruangan tersebut terbuat dari beton yang dapat membantu struktur untuk tahan terhadap segala jenis cuaca.

Pintuk masuk kapel dibuat persegi dengan ukiran di sisinya. Eckhart Matthäus Pintuk masuk kapel dibuat persegi dengan ukiran di sisinya.
Pintu masuk kapel dibuat persegi dengan ukiran di sisinya. Begitu masuk ke dalam, terdapat sebuah ruangan panjang mirip lorong dengan satu jendela pada sisinya.

Jendela ini menawarkan pemandangan pegunungan dan pedesaan di sekitarnya.

Sesuai namanya, meski tempat ini ditujukan untuk beristirahat namun juga dirancang untuk menciptakan releksi spiritual.

Pengunjung dapat beristirahat sekaligus menggunakan ruangan ini sebagai tempat refleksi dan perenungan. Di dalam ruangan terdapat ornamen salib sederhana yang diukir di salah satu dinding kapel.

Ukiran salib ini diisi dengan kaca berwarna. Sementara cahaya masuk melalui celah di antara dinding dan atap struktur serta jendela.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Dezeen

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X