Infrastruktur Transportasi dan Tata Ruang Kota, Bisakah Dikendalikan?

Kompas.com - 17/02/2019, 17:43 WIB
Antrean Pembelian Tiket Kertas di Stasiun Manggarai, Senin (23/7/2018)KOMPAS.com/ RINDI NURIS VELAROSDELA Antrean Pembelian Tiket Kertas di Stasiun Manggarai, Senin (23/7/2018)

SAMPAI saat ini, peningkatan urbanisasi disertai kemiskinan perkotaan sulit dikendalikan. Akibatnya, pada tahun 2045 diperkirakan 78 persen dari populasi Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan yang saat ini sudah mencapai 55 persen-60 persen.

Sayangnya, untuk mengelola urbanisasi tersebut, Indonesia masih belum menemukan strategi solutif. Di sektor sumber energi, misalnya, kita masih bergantung pada bahan bakar fosil yang tidak hanya terbatas jumlahnya, tetapi juga telah menjadi beban subsidi dalam APBN.

Bagi mobilitas perkotaan berkelanjutan, kita perlu berusaha menghemat konsumsi energi dari  tata ruang dan transportasi, harus mulai beralih ke sumber lain seperti gas dan energi terbarukan.

Semua usaha yang sudah dilakukan selama ini masih belum memiliki catatan keberhasilan. Tentunya kita layak mendapatkan hasil yang lebih baik pada waktu yang akan datang, bila rencana disiapkan lebih matang dan holistik.

Salah satu strategi alternatif yang sedang diimplementasikan di Jabodetabek adalah transit-oriented development (TOD) atau yang diterjemahkan sebagai Kawasan Berorientasi Transit.

Usaha yang dilakukan di Jakarta diharapkan dapat menjadi acuan untuk pengembangan di kota-kota lain di Indonesia. Inilah yang menjadikan TOD sangat mendesak saat ini.

Dalam jangka panjang, kebijakan ini bertujuan untuk mengalihkan mobilitas perkotaan dari sebelumnya yang berorientasi pada kendaraan pribadi ke sistem transit (angkutan umum), baik rel maupun bis.

Harapan ini sungguh sulit karena sekarang sekitar 70 persen penduduk masih bergantung pada mobil dan sepeda motor pribadi untuk perjalanan sehari-hari. Akan tetapi, rencana aksi untuk mempercepat simpul-simpul mirip TOD dengan membangun blok-blok menara rumah susun, kantor dan ritel di samping stasiun transit (kereta api) kini sudah menjamur.

Ilustrasi shutterstock Ilustrasi
Rencana sebelumnya, terdapat 8 lokasi yang sudah ditetapkan dalam Tata Ruang Jakarta 2030. Kemudian, berdasarkan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek, dari 8 lokasi ini bertambah jadi 54 lokasi di seluruh wilayah Jabodetabek.

Saya mendesak perlunya kerangka perencanaan, regulasi dan kelembagaan TOD yang kuat untuk kota-kota di Indonesia. Tanpa itu, implementasi TOD akan menjadi kontra-produktif sehingga sulit untuk mencapai tujuan mulia mengurangi waktu dan jarak perjalanan pada masa yang akan datang.

Tujuan TOD

TOD utamanya adalah upaya untuk pengembangan perkotaan yang memaksimalkan area hunian, komersial dan rekreasi dengan jarak jalan kali dari pemberhentian transit.

Pada umumnya, kawasan TOD yang paling padat berada dalam radius 400-500 meter sampai 800-100 meter yang dirancang untuk mencapai 4 tujuan utama yakni 1) mobilitas, pergerakan orang yang diprioritaskan, bukan kendaraan; 2) masyarakat memiliki akses yang sama terhadap fasilitas kota.

Kemudian 3) perumahan rakyat yang terjangkau dialokasikan 20 persen-30 persen dari koefisien lantai bangunan hunian dan area perdagangan untuk usaha kecil menengah; 4) kualitas hidup, dengan mengurangi emisi karbon dari gaya hidup bebas kendaraan.

Halaman:



Close Ads X