Liem Bwan Tjie, Tionghoa Pelopor Arsitektur Modern Indonesia

Kompas.com - 30/01/2019, 08:00 WIB
 Liem Bwan TjieDikken Liem Bwan Tjie

KOMPAS.com - Pada abad ke-20 perkembangan arsitektur modern di Nusantara diperkenalkan oleh arsitek Belanda seperti Thomas Karsten, Henri Maclaine Pont, dan lain-lain.

Dari sederet nama-nama tersebut terselip seorang arsitek kelahiran Semarang, Liem Bwan Tjie, yang karyanya banyak tersebar di seluruh penjuru negeri.

" Arsitek pertama Tionghoa yang belajar arsitektur di Belanda, hasilnya karya perpaduan Eropa dan China," ujar dosen Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, Adrian Perkasa kepada Kompas.com, Selasa (29/1/2019).

Liem Bwan Tjie merupakan arsitek modern generasi pertama di Indonesia. Dia dilahirkan di Semarang pada tanggal 6 September 1891, dari keluarga Tionghoa generasi keempat yang tinggal di Hindia Belanda waktu itu.

Karena situasi yang terus berubah, pada waktu itu banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, tak terkecuali keluarga Liem.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahiran, Liem Bwan Tjie pun hijrah ke Belanda pada 1910.

Baca juga: Atap Ekor Burung Walet, Lambang Kemakmuran Warga Tionghoa

Di sana, anak kelima dari seorang pedagang tekstil di Gang Warung ini menempuh pendidikan di Middelbaare Technischeschool atau setara sekolah teknik menengah di Belanda. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Delft pada 1920.

Handinoto dalam Liem Bwan Tjie, Arsitek Modern Generasi Pertama Di Indonesia (1891-1966), yang dipublikasikan di jurnal Dimensi pada 2004 menulis, sejak tahun 1916, Liem sudah bekerja di kantor arsitek terkenal seperti B.J Oundag, Michale de Klerk, Gulden en Geldmaker, dan Ed Cuypers di Amsterdam.

Salah satu sudut Oei Tiong Ham Concern, gedung perkantoran yang dirancang  Liem Bwan TjieP RADITYA MAHENDRA YASA Salah satu sudut Oei Tiong Ham Concern, gedung perkantoran yang dirancang Liem Bwan Tjie
Awalnya dia bekerja pada N.V. Volkhuisvesting atau lembaga perumahan rakyat di bawah gemeente Semarang. Namun setahun kemudian ia memutuskan untuk mendirikan kantor arsiteknya sendiri.

Dari Semarang, Liem kemudian pindah ke Jakarta pada 1938. Kepindahannya ke ibu kota membawanya pada puncak karir, apalagi setelah banyak posisi arsitek kosong karena ditinggal orang Belanda.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X