Urai Kemacetan, Solo Bangun 15 Koridor Transportasi Massal

Kompas.com - 18/01/2019, 16:09 WIB
Mural bertema Asian Games 2018 terlukis di dinding bangunan rumah dan gudang di Kampung Pucangsawit, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (30/6/2018). KOMPAS.com/Labib ZamaniMural bertema Asian Games 2018 terlukis di dinding bangunan rumah dan gudang di Kampung Pucangsawit, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, Sabtu (30/6/2018).

SOLO, KOMPAS.com - Masalah transportasi di Kota Solo dinilai terlalu kompleks. Pasalnya letak geografis Kota Solo yang terjepit, menurut Wakil Wali Kota Surakarta Ahmad Purnomo, berpengaruh pada masalah transportasi.

Ahmad melanjutkan, transportasi di Kota Solo tidak terlepas dari transportasi antar kota. Ini karena wilayah Solo menjadi penghubung antar wilayah.

Dia menyebutkan, dengan luas kota yang hanya 44 kilometer persegi, jumlah penduduk Kota Solo pada siang hari mencapai 2,5 juta sedangkan pada malam hari jumlahnya hanya 560.000 jiwa.

Bahkan, menurut dia, kepadatan penduduk di Kota Solo paling tinggi di Jawa Tengah.

"Perbedaan malam dan siang mencolok, Solo kota bisnis, studi, bekerja. Sehingga lalu lintas malam dan siang perbedaan jauh sekali, sementara jalan di Solo tidak bisa bertambah karena padatnya penduduk," ujar Ahmad dalam sebuah diskusi di Gedung Tribunnews Solo, Kamis (17/1/2019).

Baca juga: Tingkat Hunian Hotel di Solo Melonjak Jelang Tutup Tahun

Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Hari Prihatno menambahkan, jumlah kendaraan pribadi masyarakat di Kota Bengawan ini mencapai 747.000 unit.

Mayoritas merupakan kendaraan roda dua dengan jumlah mencapai 400.000 unit. Sedangkan total kendaraan yang melintasi Kota Solo baik dari luar maupun dalam mencapai 1,5 juta unit per hari.

Jalan layang (flyover) Manahan di Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (16/12/2018).KOMPAS.com/LABIB ZAMANI Jalan layang (flyover) Manahan di Kota Solo, Jawa Tengah, Minggu (16/12/2018).
Pengamat transportasi dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Syafii menilai, permasalahan transportasi khususnya di Kota Solo tidak bisa diselesaikan secara on the spot.

Ketika berbicara mengenai infrastruktur, lanjut dia, konteks yang harus dicermati mengenai transportasi adalah pergerakan kendaraan yang melaju dari luar Kota Solo.

Kendaraan yang masuk ke dalam kota tidak hanya menjadikan Solo sebagai tujuan akhir, namun juga sekadar lewat.

Dia juga mengungkapkan seharusnya masyarakat tidak terbuai dengan pembangunan infrastruktur semata, namun juga harus mampu mendorong masyarakat menggunakan transportasi publik.

Hal ini menurutnya, merupakan hak warga karena mereka turut membayar pajak.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X