Menilik Urusan Jamban Warga Jakarta

Kompas.com - 08/01/2019, 22:02 WIB
Hamparan sampah seluas lebih dari 500 meter persegi terlihat di samping Rumah Susun Sederhana Sewa Pinus Elok, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (5/2). Hamparan sampah itu telah berusia 16 tahun dan tak pernah diangkut. Baru pada awal Januari separuh timbunan sampah itu diangkut setiap hari oleh Suku Dinas Kebersihan Jakarta Timur. KOMPAS/MADINA NUSRATHamparan sampah seluas lebih dari 500 meter persegi terlihat di samping Rumah Susun Sederhana Sewa Pinus Elok, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (5/2). Hamparan sampah itu telah berusia 16 tahun dan tak pernah diangkut. Baru pada awal Januari separuh timbunan sampah itu diangkut setiap hari oleh Suku Dinas Kebersihan Jakarta Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pencemaran karena limbah industri dan rumah tangga, banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan (IAP), Bernardus Djonoputro, menyebut Jakarta sebagai salah satu contoh. Di kota ini jumlah rumah tangga dengan jamban tanpa tangki septik aman masih tinggi. 

Baca juga: Soal Kali Item, Pakar Desak DKI Prioritaskan Waste Water Management

Berdasarkan laporan Statistik Indonesia 2018 yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS), di DKI Jakarta terdapat sekitar 2.710.600 rumah tangga, dengan rata-rata banyaknya anggota keluarga sebanyak 3,8.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 83,69 persen rumah tangga sudah memiliki akses ke fasilitas tempat buang air besar milik sendiri.

Sementara 12,50 persen memiliki fasilitas sanitasi bersama, sedangkan 3,63 persen menggunakan fasilitas tempat buang air besar (MCK) umum.

Selain itu sebanyak 0,02 persen atau sekitar 542 rumah tangga tidak menggunakan fasilitas tempat buang air besar dan 0,16 persen atau sekitar 4.336 rumah tangga tidak memiliki fasilitas sanitasi.

Pada data BPS lain yang dipublikasikan November 2018 berjudul Statistik Kesejahteraan Rakyat 2018, sebanyak 83,13 persen rumah tangga sudah memiliki akses ke fasilitas sanitasi milik sendiri.

Selain itu, 12,81 persen memiliki fasilitas sanitasi bersama, sedangkan 3,64 persen menggunakan fasilitas tempat buang air besar umum.

Sementara sebanyak 0,02 persen fasilitas sanitasi tidak digunakan dan 0,40 persen sisanya tidak memiliki fasilitas tempat buang air besar.

Baca juga: Kali Item Berbusa, Potret Terbelakangnya Manajemen Limbah Jakarta

Kondisi ini bukan hal baru, Bernardus menuturkan, hal serupa sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Menurutnya, masih banyak rumah tanga di Jakarta yang belum memiliki akses sanitasi memadai.

"Data lainnya menunjukkan masih tingginya jumlah rumah tangga yang buang air besar sembarangan, masih tingginya jumlah rumah tangga dengan jamban tanpa tangki septik aman, serta masih terbatasnya cakupan pengelolaan air limbah domestik baik secara terpusat maupun setempat," ujar Bernardus kepada Kompas.com, Minggu (6/1/2019).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X