Jelang 2019, Tokyu Land Rilis Proyek Rp 2,2 Triliun di Mega Kuningan

Kompas.com - 18/12/2018, 15:11 WIB
Lokasi proyek Branz Mega KuninganKompas.com/HILDA B ALEXANDER Lokasi proyek Branz Mega Kuningan

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang properti asal Jepang, Tokyu Land Corporation, makin agresif melakukan ekspansi bisnisnya.

Setelah merealisasikan Branz BSD, dan Branz Simatupang, dalam interval waktu tak sampai satu tahun, atau jelang tutup tahun 2018, melalui anak usahanya, PT Tokyu Land Indonesia, mereka melansir proyek baru bertajuk Branz Mega Kuningan.

Proyek yang menempati area seluas 1 hektar ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan Japan Overseas Infrastructure Investment Corporation for Transport, and Urban Development (JOIN).

Operating Director Overseas Business Division Tokyu Land Corporation Masaoki Kanematsu menuturkan, perusahaan sangat serius dan memegang komitmen melanjutkan pengembangan bisnis hunian vertikal di Indonesia.

Baca juga: Presiden Tokyu Land Berkata Sorry Terkait Proyek Baru 2019

"Komitmen tersebut dimulai sejak 2012 setelah membangun di BSD dan koridor Simatupang. Namun sebelumnya kami sudah hadir di Indonesia 43 tahun lalu yakni sejak 1975. Hingga saat ini sudah 4.500 rumah yang kami bangun," tutur Masaoki, Selasa (18/12/2018).

Dia menambahkan, selain membangun, Tokyu Land juga menangani akuisisi dan pembebasan lahan. Sementara untuk pengelolaan properti diserahkan kepada Tokyu Property Management.

Untuk mengembangkan Branz Mega Kuningan, Tokyu Land Indonesia dan JOIN berbagi komposisi dana investasi. Dari total investasi senilai Rp 2,5 triliun, porsi JOIN sebesar 6,5 miliar yen atau ekuivalen Rp 837 miliar.

Nilai sebesar itu merupakan bentuk bantuan pendanaan dari JOIN yang kelahirannya bertujuan untuk mendorong perusahaan-perusahaan Jepang supaya ikut berkompetisi di pasar infrastruktur dan properti internasional.

JOIN sendiri dibentuk pada 2014 melalui investasi pemerintah Jepang bersama sejumlah perusahaan swasta negeri Matahari Terbit itu.

Presiden Direktur Tokyu Land Indonesia Keiji Saito menjelaskan nilai investasi tersebut sudah termasuk akuisisi lahan, konstruksi fisik, dan pelebaran akses menuju kawasan pengembangan Branz Mega Kuningan.

"Jadi, kami juga yang melakukan pelebaran jalan," cetus Keiji menjawab Kompas.com.

Saat ini, desain proyek Branz Mega Kuningan masih dalam proses sidang Tim Penilai Arsitektur Kota (TPAK). Karena itu, Tokyu Land Indonesia belum mengantongi perizinan, termasuk Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Namun demikian, Keiji memastikan pihaknya akan mengikuti dan taat prosedur hingga seluruh perizinan benar-benar sudah dikantongi. 

"Jika semua sudah lengkap, kami akan memulai pembangunan pada Kuartal II-2019 atau setelah Pilpres," cetus Keiji.

Bidik investor dan ekspatriat

Tokyu Land Indonesia secara resmi merilis Branz Mega Kuningan, Selasa (18/12/2018).Kompas.com/HILDA B ALEXANDER Tokyu Land Indonesia secara resmi merilis Branz Mega Kuningan, Selasa (18/12/2018).
Branz Mega Kuningan dirancang sebanyak dua menara yakni apartemen strata sebanyak 482 unit yang dikombinasikan dengan apartemen servis 240 unit dengan 3.000 meter persegi ruang ritel komersial sebagai pelengkapnya.

Kendati segmen apartemen servis, dan apartemen strata di Jakarta secara umum tengah mengalami perlambatan, namun Keiji optimistis bisa mengantongi pendapatan pembangunan (development income) dan pendapatan berkelanjutan (recurring income) maksimal.

Hal ini karena Kawasan Mega Kuningan merupakan salah satu sentra finansial Jakarta dan juga berkantornya para diplomat asing.

Di sekeliling Branz Mega Kuningan, memang terdapat kantor-kantor Kedutaan Besar Negara Asing. Para ekspatriat ini juga membutuhkan hunian.

Selama ini pasokan apartemen servis di kawasan ini berasal dari Oakwood Residence, Sommerset Citra dan Ascott Residence dengan okupansi rata-rata menyentuh angka 80 persen.

"Kami hadir untuk memenuhi kebutuhan hunian para ekspatriat itu dan tentu saja investor," cetus Keiji.

Branz Mega Kuningan akan dipasarkan dengan kisaran harga Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per meter persegi dengan tipe terkecil studio ukuran 30 meter persegi dan terbesar tiga kamar tidur seluas 130 meter persegi.

Seluruh pembangunan fisik dijadwalkan rampung pada 2023 mendatang.





Close Ads X