Perempuan Palestina Sukses Ciptakan Bahan Bangunan Alternatif - Kompas.com

Perempuan Palestina Sukses Ciptakan Bahan Bangunan Alternatif

Kompas.com - 08/11/2018, 12:30 WIB
Majd Mashharawi berhasil membuat balok bangunan dari material yang mudah dijumpai. inhabitat.com Majd Mashharawi berhasil membuat balok bangunan dari material yang mudah dijumpai.

KOMPAS.com - Seorang perempuan asal Gaza, Palestina, Majd Mashharawi berhasil membuat balok bangunan dari material yang mudah dijumpai. Ide untuk membuat inovasi ini datang setelah rumahnya hancur akibat perang.

"Saat perang berkecamuk pada 2008, sebagian besar rumah kami musnah," ujar Majd dalam video yang diunggah BBC.

Majd menceritakan, setelah perang, ia hanya menemukan puing di sisa reruntuhan rumahnya. Untuk itu ia kemudian memiliki keinginan membangun kembali wilayah tempat tinggalnya.

Majd kemudian melanjutkan studi di bidang teknik. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Majd kemudian berinisiatif untuk membuat bahan bangunan dari sisa material yang ada.

"Kemudian saya berpikir bagaimana cara membuat balok yang ringan namun terjangkau," ucap Majd.

Kemudian lahirlah Green Cake. Menurut Majd, Green Cake merupakan balok bangunan yang terbuat dari bahan sisa.

"Ini (balok) disebut Green Cake karena terbuat dari bahan bangunan ramah lingkungan, terbuat dari bahan yang seharusnya sudah masuk ke tempat sampah," imbuh Majd.

Green Cake lahir di tengah keterbatasan kondisi masyarakat yang tidak mendapatkan akses bahan dari luar wilayahnya.

Biasanya, balok bangunan terbuat dari semen, pasir, dan kerikil atau agregat. Namun di tengah kondisi blokade, banyak barang yang dibatasi memasuki Gaza, termasuk bahan bangunan.

Green Cake merupakan balok bangunan yang terbuat dari bahan sisa. 
inhabitat.com Green Cake merupakan balok bangunan yang terbuat dari bahan sisa.
Untuk itu, Majd kemudian mencari alternatif lain. Dia mendapati keadaan bahwa banyak abu yang dibuang oleh masyarakat. Bahan inilah yang kemudian ia jadikan sebagai salah satu material alternatif.

Abu yang digunakan berasal dari restoran dan pabrik setempat. Mengutip Al Jazeera, restoran di Gaza setiap hari menghasilkan 100 kilogram debu, sementara lebih dari tujuh ton debu dihassilkan setiap minggu dari pabrik pot setempat.

Bahan tersebut biasanya langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir, dan berasal dari restoran dan pabrik setempat. Namun hal ini mencemari pasokan air bersih di Gaza.

Setelah 10 kali percobaan, Majd akhirnya berhasil membuat purwarupa balok bangunan.

Majd kemudian membawa hasil temuannya ke pabrik setempat. Namun sayang, saat diuji, balok tersebut hancur. Majd tak patah arang, ia terus mencoba membuat balok dengan campurang yang berbeda.

Green Cake lahir di tengah keterbatasan kondisi masyarakat yang tidak mendapatkan akses akan bahan dari luar wilayahnya. inhabitat.com Green Cake lahir di tengah keterbatasan kondisi masyarakat yang tidak mendapatkan akses akan bahan dari luar wilayahnya.
Dia dan rekannya, Abdelatif, melanjutkan eksperimen dengan mengubah porsi campuran setiap bahan. Setelah beberapa kali percobaan, mereka berdua berhasil membuat balok ringan yang tahan tekanan saat diuji coba.

Lebih lanjut, Majd mengatakan, penamaan Cake atau kue karena balok bangunan ini juga terbuat dari bahan-bahan yang mengandung berbagai kotoran. Hal inilah yang membuat balok beton ini lebih ringan dibanding balok biasa.

Balok tersebut terbuat dari campuran sedikit semen impor, puing bangunan, dan abu. Kini Green Cake telah diproduksi secara massal di Gaza. Sebuah pabrik rumahan mengerjakan semua pembuatan balok.

Produksi balok kemudian ditingkatkan dalam jumlah besar pada awal 2018. Sejak saat itu, pabrik ini telah membuat lebih dari 30.000 balok.

"Inilah masa depan yang ingin saya tampilkan ke masyarakat luar," ucap Majd.



Close Ads X